Menumbuhkan Masyarakat Grassroots

 

Syncoreconsulting.com – Termarjinalkan, mungkin ungkapan yang biasa terdengar ditelinga,  nasib masyarakat kelas bawah yang kebanyakan diantaranya adalah warga pedesaan. Selama ini pembangunan banyak dipusatkan di kota-kota, di kawasan industri, seakan lupa dengan keberadaan desa.

Di era presiden Jokowi-JK ini, pembangunan desa mulai di gaungkan menjadi salah satu konsen utama pemerintah. Pembangunan daerah dan desa menjadi salah satu agenda pemerintahan Jokowi-JK dalam Nawacita ketiga. Bunyinya, “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Kita sering mendengar grassroots understanding, ya, pemahaman dari bawah, dari hal-hal kecil yang seringkali terabaikan. Ketika frase trsebut dikaitkan dengan suatu bangsa besar dengan pluralismenya yang disebut Indonesia, maka mungkin rumput ini menggambarkan kaum minor, wong cilik, atau orang-orang miskin, pedesaan dan terpinggirkan

Pembangunan “dari bawah”, membawa angin segar bagi masyarakat di pedesaan untuk lebih mengeksplorasi sumber daya yang ada. Dalam penjelasan Pasal 72 Ayat (2), besaran alokasi anggaran langsung ke desa, ditentukan 10 persen dari dan di luar dana transfer ke daerah (on top) secara bertahap. Dalam penyusunan dana desa dari APBN mempertimbangkan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan kesulitan geografi. Rata-rata setiap desa akan mendapat 1,4 miliar.

Pengalokasian dana desa diharapkan dapat meningkatkan pemerataan pembangunan kesejahteraan melalui peningkatan pelayanan publik, menguatkan perekonomian, mengatasi kesenjangan pembangunan antardesa, serta memperkuat masyarakat sebagai subjek pembangunan. Akhirnya, “akar rumput” ini diharapkan benar-benar mampu ditumbuhkan, menghidupi kehidupan masyarakat yang sejahtera.