Media Sosial Sebagai Pembentuk Opini Publik

Media sosial merupakan salah satu media online yang kini paling menyedot perhatian publik. Dengan dukungan ponsel, pengguna  dapat mengakses media sosial atau lebih sering disebut sosmed hanya dalam genggaman. Selama kuota data internet masih ada, pengguna bebas berselancar di dunia maya khususnya media sosial.

Menurut data media komunikasi dari Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IPK), jumlah pengguna telepon seluler (ponsel) yang beredar 374 juta atau lebih besar (142%) daripada 262 juta penduduk di Indonesia. Data pengguna internet 132,7 juta (51,3%), pengguna sosmed yang aktif mencapai 106 juta atau 40%. Dari angka 106 juta pengguna sosmed pasti mempunyai peran dalam membentuk opini publik.

Jutaan informasi tersebar di media sosial setiap harinya. Dari informasi yang diterima itulah publik mulai membentuk opini. Setiap orang dapat menyebarkan informasi untuk dibagikan di media sosial tanpa adanya filter. Beberapa informasi yang ada masih perlu dipertanyakan kebenarannya karena tidak menyertakan bukti atau fakta yang ada. Namun, tak sedikit orang percaya tanpa mengklarifikasi kebenaran informasi dari sumber yang berbeda.

Dari beberapa kasus, media sosial digunakan untuk menjatuhkan lawan politik. Informasi yang dimuat kepada khalayak dibumbui oleh isu SARA yang tentunya sangat menyentuh sensitivitas pembaca. Tak khayal jika cara tersebut menjadi senjata yang ampuh untuk menarik simpati pembaca untuk mendukungnya  dan membentuk opini publik tentang keburukan sang lawan.

Untuk membatasi seseorang agar tidak merugikan dalam ber-media sosial, maka UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 19/2016 dirumuskan. UU tersebut berisi tentang larangan mendistribusikan, mentransmisikan, dan membuat dokumen elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, serta pemerasan atau pengancaman.

Media sosial sebagai pembentuk opini publik hendaknya memberikan informasi yang bermanfaat untuk kepentingan umum. Selain itu, perlunya pengguna media sosial dalam mengklarifikasi setiap informasi yang mereka terima. Dengan klarifikasi, pengguna media sosial dapat terhindar dari informasi menyesatkan yang mungkin dapat merugikan pihak tertentu.