Workshop Pengelolaan BUMDes: Peluang Usaha Desa Wisata

Syncoreconsulting.com – Yogyakarta, banyak masyarakat desa di sekitar kita sedang gencar menjalankan pembangunan infrastruktur di berbagai bidang. Anggaran desa yang didapatkan dari pemerintah banyak digunakan untuk merenovasi gorong-rorong, jalan desa, jembatan, dan sebagainya. Padahal dari anggaran dana desa yang diberikan oleh pemerintah, terdapat alokasi khusus yang bisa dimanfaatkan untuk membuat usaha desa. Sebuah usaha untuk kemandirian desa yang dikelola langsung oleh warganya.

Usaha desa itu, biasa kita kenal dengan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Sayangnya, banyak desa yang belum paham betul apa itu BUMDes, siapa saja pengelolaanya, dan bagaimana cara membentuknya. Adalah pemerintahan Desa Panggungharjo bekerjasama dengan Bumdes.id, menyelenggarakan workshop guna memberi solusi atas ketidakpahaman pemerintahan desa yang ingin mendirikan BUMDes. Acara yang digelar pada 27-28 Februari 2018 kemarin, menyuguhkan berbagai informasi dan inspirasi bagi mereka yang ingin membentuk BUMDes .

Salah satu pemateri yang hadir dalam workshop pengelolaan BUMDes adalah Bpk. Panji Kusuma, beliau adalah pengelola Kampoeng Mataraman, salah satu unit usaha BUMDes dari Desa Panggungharjo. Dalam sesi sharing dan diskusi, Panji menceritakan perjalanan dari nol sampai sekarang Kampoeng Mataraman menjadi wisata desa yang sangat ramai dikunjungi.

Usaha desa wisata menjadi salah satu pilihan yang memiliki prospek cerah kedepannya. Dengan semangat memanfaatkan sumber daya alam dan dipadu sumber daya manusia yang ada di desa, masyarakat desa dituntut kreatif untuk mencari ide segar guna menemukenali potensi yang ada. “Awalnya kami pesimis, apakah konsep Kampoeng Mataraman ini bisa berkembang, dulu sangat banyak yang meragukan, jangankan laku, bisa menutup biaya operasional saja sudah bersyukur” tutur Panji dalam sesi sharing waktu itu. Keraguan dalam memulai suatu usaha adalah hal yang wajar, cibiran dari orang-orang diluar sana juga pasti akan ditemui, tapi semangat berani mencoba haruslah terpatri disanubari.

Denga semangat kebersamaan, dan niat untuk mensejahterakan warga desa, Panji dan kawan-kawan memulai usaha Kampoeng Mataraman. “Kami tidak menyangka, omzet dari Kampoeng Mataraman pada awal-awal dibuka diluar dugaan, awalnya kami tidak berani menargetkan akan mendapatkan omzet sekian atau sekian” tutur Panji.

Kedepan, usaha pariwisata akan terus berkembang. Orang di zaman modern seperti sekarang semakin penat dengan aktivitasnya, kota semakin penuh sesak dan tidak nyaman lagi, akhirnya wisata ke desa menjadi alternatifnya. “Ternyata potensi yang ada di desa sangat diminati, bukan saja oleh warga kota namun juga warga dunia” jelas Panji saat sesi tanya jawab tangah berlangsung.

Kesuksesan Kampoeng Mataraman juga diceritakan oleh Yuli Trisniati selaku sekretaris Desa Panggungharjo. “Pada bulan pertama dibuka, Kampoeng Mataraman mendapat omzet 70Juta-an, lalu pada bulan kedua kami mencoba menarget seperti bulan pertama.” Wisata desa yang dikemas dengan konsep kembali ke-ndeso, ternyata mendapat antusias yang tinggi. Konsep wisata desa layak untuk diperhitungkan menjadi sumber pendapatan aseli desa, bukan saja karena profit semata, namun lebih dari itu mampu memberi edukasi sosial budaya kepada pengunjungnya.

Tidak mengeluhkan keadaan, seharusnya usaha semacam Kampoeng Mataraman patut dicontoh oleh pemerimtahan desa manapun. Dalam workhsop pengelolaan BUMDes yang diprakarsai oleh Bumdes.id kemarin, selain terdapat sesi sharing dan tanya jawab, terdapat pula pemaparan materi manajemen BUMDes, tinjauan langsung ke lapangan, dan masih banyak lagi. Kedepan, semoga dengan hadirnya workshop semacam ini, lebih banyak mampu menginspirasi desa-desa yang lain. Salam Bumdes sukses!