Era Disruption Membawa Nasib Media Kemana?

source : time8.com

 

Syncoreconsulting.com – Waktu terus bergerak, bagai anak panah yang terus melesat tak kenal henti dan mati. Beriringan dengan terus berkembangnya peradaban menjadikan manusia sebagai aktor utama dalam perubahan. Seperti waktu, perubahan adalah “sunatullah” hal yang pasti terjadi dan akan terus menggelinding liar, suka tidak suka.

Teman-teman yang bergerak di industri media bisa jadi merasakan kembang kempis menghadapi laju perubahan. Ada yang berkembang memanfaatkan perubahan ini pun ada pula yang gelagapan. Mereka yang memanfaatkan keadaan bagai menumpangi lokomotif dengan kecepatan luar biasa menuju ke dunia baru. Sedangkan mereka yang mengempis tidak siap dengan perubahan, akan terseok-seok berlari mengejar lokomotif yang jauh meninggalkannya.

Per-tahun 2008 sampai dengan saat ini, sudah ada 5 media cetak berpengaruh di Amerika yang harus gulung tikar. Di Indonesia kita bisa melihat tumbangnya beberapa industri Koran dan yang terbaru ini Majalah Rolling Stone-pun harus ikut gulung tikar. Perubahan perilaku konsumen (consumen behavior) menjadi faktor besar dibalik bangkrutnya media konvensional.

“Kita menghadapi sebuah era baru-era disruption. Era ini membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing.” Ungkap Rheinald Kasali dalam bukunya Disruption. Ia menerjemahkan cara-cara berpikir, cara marketing, regulasi korporasi dan banyak hal konvensional yang dahulu sebaiknya dimodifikasi sesuai kebutuhan saat ini.

Masyarakat sekarang beralih kepada cara-cara yang berbasis daring. Ambil case sejak Android meledak di pasaran pada tahun 2008. Orang cenderung memilih gadget dalam membantu memenuhi kebutuhannya informasinya. Lebih jauh kita masuk era dimana tidak kemana-mana tapi bisa dapat segalanya. Berbelanja saat ini tanpa harus pergi ke mall atau pasar atau warung, pesanan kita sudah langsung di antar sampai depan rumah. Perubahan lain muncul di mode transportasi, bagaimana Ojek Online menggempur ojek Konvensional akhir-akhir ini. Perubahan itu terus bergerak, tidak mengenal siapa kita, terjang, ikuti atau terlumat.

Rhenald Kasali lebih lanjut memaparkan bagaimana era baru – disruption, telah mengubah cara dan pandangan lama menjadi sesuatu yang harus disikapi dengan cara baru.“Singkat saja, disruption adalah sebuah inovasi. Inilah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru.”

Senada dengan pernyataan Kasali, kita mendengar banyak brand baru berciutan di telinga kita. Brand yang sebelumnya bahkan kita belum pernah menggunakan layanannya. Bagaimana majalah kini dapat di akses menjadi e-book, atau bagaimana kita dengan mudahnya membeli tiket hotel darimana saja memilih hotel mana saja. Bagaimana media sosial saat ini mulai diperhitungkan, ke efektifan medsos membius para marketer belakangan ini. Ada yang punya contoh, perusahaan bonafid saat ini yang tidak memiliki media sosial? Atau BUMN yang tidak menggunakan layanan media sosial untuk aktivitas publikasi mereka?

Bagaimana nasib media kedepan? Pada zaman yang sudah menembus ruang dan waktu ini, agaknya sulit menerjemahkan apa yang dilakukan kompetitor. Atau melihat sebenarnya siapa saja yang akan menjadi kompetitor baru? Banyak pertanyaan muncul. Kencangkan ikat pinggang, bergegas untuk tidak terbawa suasana. Di era disruption saat ini, tidak siap dengan perubahan sama dengan kegagalan. Pilihannya hanya ada dua, seperti laju waktu. Kita menghadapi disruption dengan cara-cara baru dan inovasi atau hanya diam dan menjadi korban disruption.