DISKUSI TERBUKA Peta Jalan dan Pokok-Pokok Pikiran Penguatan dan Pengembangan Badan Usaha Milik Desa : Sebuah Kolase

Syncoreconsulting.com – Meski hanya satu butir biji, tetapi itu bernilai. Satu butir yang akan tumbuh menjadi pohon, satu butir yang akan mengayomi, bahkan menghidupi. Begitu juga dengan prinsip kami. Memperhatikan hal-hal kecil, melihat dari bawah, memperhatikan mereka yang kadang terabaikan. Kami akan berteriak lantang berucap “sukses” tatkala mereka tidak lagi kekurangan. Maka kausalitasnya adalah mereka harus tersejahterakan.

Mereka bukanya tidak mampu, mereka hanya butuh bimbingan. Mereka bukannya tidak mau, mereka hanya butuh kesepahaman. Rintangan itu selalu ada, begitu juga dengan solusi yang kita berikan. Mereka adalah bagian dari kita. Masyarakat desa.

Melalui dana desa, terdapat alokasi khusus sebagai ruang kreatif bagi masyarakat. Ruang itu adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ruang yang jika dimanfaatkan sedemikian rupa bisa membawa berkah, bukan saja desa (infrastrukturnya) tetapi juga yang masyarakatnya. Itulah mengapa Bumdes.id senantiasa bergerak untuk menumbuhkan, mengembangkan dan menguatkan BUMDes di Indonesia.

                                                   Pemantik Materi Diskusi Terbuka

Salah satu cara kami memberi benefit kepada masyarkat adalah dengan mengadakan Diskusi Terbuka. Sebuah acara yang dikemas dengan apik, melibatkan berbagai tokoh penting penggerak perubahan. Bak Gayung bersambut, acara yang kami lakukan seperti air yang sedang dipanaskan. Pada hari H pelaksanaan, air itu mencapai suhu 100 derajat celcius. Mendidih, meluap, luber! diluar dugaan.

                                                Antusias Peserta Diskusi Terbuka

Antusias masyarakat luar biasa, ini menjadi indikasi bagi kami. Bahwa BUMDes itu adalah solusi yang sekaligus sebuah jawaban juga kumpulan pertanyaan. Acara yang melibatkan pemikiran dan peran aktif masyrakat itu sukses menguak berbagai problem selama ini.

Waktu itu hari Jumat sekitar jam 3 sore, mendung mengundang tanpa hujan. Berkerumunan orang duduk di altar pendopo sebuah resto yang dikonsep “ndeso”. Seperti orang-orang yang sedang menunggu kereta tiba dengan wajah bertanya-tanya. Memang benar, salah satu pemantik materi dalam acara itu masih dalam perjalanan dari bandara Adisucipto menuju Kampoeng Mataraman.

Tercatat dari panitia pelaksana 70 orang terdaftar dalam acara Diskusi Terbuka tersebut, belum lagi ditambah tamu undangan dan kawan-kawan dari media. Acara dimulai meski sedikit mundur dari yang dijadwalkan. Diawali dengan sambutan sekaligus yang menjadi moderator Rudy Suryanto, beliau selaku founder Bumdes.id.

                        Rudy Suryanto (kanan) wawancara dengan media

Orang yang ditunggu-tunggu peserta dengan wajah penuh tanya akhirnya angkat bicara. Sebagai Ketua Forum BUMDes Indonesia, sekaligus staff ahli Kementerian Pedesaan PDTT H. Febby D.T. Bangso menyampaikan berbagai pandangan dan aspirasi tentang BUMDes.  “Sekolah Manajemen BUMDes dan BUMDes.id ini pun sangat membantu.Yogyakarta menjadi referensi, kita apresiasi karena mereka bisa menjadi inspirasiuntuk banyak BUMDes di Indonesia.”

H. Febby D.T. Bangso (kanan)

Acara dilanjutkan oleh pemantik materi berikutnya. Beliau dikenal sebagai “provokator” penggerak BUMDes di Indonesia. “Saya ini sudah bisa dibilang keliling kemana-mana menyampaikan soal BUMDes, tapi nggak bosen-bosen,” celoteh Yanni Setyadiningrat kepada Bumdes.id. Beliau adalah carik atau Sekdes dari Desa Ponggok, Kabupaten Klaten. Lebih lanjut lagi beliau menambahkan, “Saya memberikan pemahaman tentang BUMDes kesemua orang yang saya temui secara terbuka, semua saya ceritakan, tidak ada rahasia tidak ada dusta diantara kita.” Tata bahasa Yanni memang lugas dan mudah dipahami oleh peserta, tak ayal banyak yang terbakar semangat setelah mendengarkan pemaparannya.

Yenni Setyadiningrat (kanan)

Mengingat waktu yang tidak bisa menunggu, sesi demi sesi pun dilalui secara paralel. Berikutnya adalah giliran Agus Setyanta seorang Direktur Bumdes Amarta dari desa Pandowoharjo. Satu kata yang kami ingat dari Agus, beliau selalu mengawali pembicaraan dari dalam diri. “Menjadi wong ndeso itu harus bangga, menjadi penggerak BUMDes itu harus bangga, terlebih lagi sebagai direktur BUMDes harus percaya diri!,” sambil terkekeh dengan yakinya.

Break! Sebelum melanjutkan kepada pemateri selanjutnya, telah tersaji snack “ala ndeso” di samping kanan kiri ruang acara. “Monggo untuk bisa menikmati hidangan yang sudah tersedia, silakan dinikmati swakelola saja, monggo” ucap Rudy menutup sesi pertama.

Disela peserta menikmati sajian snack yang tersaji, tim Bumdes.id menyempatkan untuk mengobrol dengan salah satu peserta. Hadir disana perwakilan dari Komunitas yang konsen dengan advokasi tentang sumberdaya alam. “Pengen tau sebenarnya Bumdes itu apa, seperti apa pengelolaanya karena akan sangat membantu kami dari yayasan Koaksi yang bergerak di daerah pedalaman Indonesia,” pungkas Azis Kurniawan. Azis dan temannya sebelumnya memang mengikuti acara TOT (Training on Trainer) tentang pengelolaan BUMDes yang diadakan Bumdes.id. Keingintahuan yang tinggi menjadikannya tetap stay untuk menyimak Diskusi Terbuka.

Segelas teh panas belum habis disruput, sesi berikutnya pun dilanjut. Membersamai langit yang menguning di ufuk barat, petang itu acara semakin syahdu. Selanjutnya pembicara berasal dari pemerintahan tingkat desa, Bahrun Wardoyo. Meski desa yang ia pimpin berada di daerah pegunungan tandus terpencil di selatan kota Jogja. Tidak mematahkan Kepala Desa itu untuk semangat terus berinovasi. “Kita hidup di desa sebenarnya kalau bisa mengelola kita bisa kaya kok. Jangan bilang desa nggak punya potensi, setiap desa pasti punya potensi,” jelas Bahrun. Dalam hal pemanfaatan teknologi informasi (internet)  Pemerintahan Desa Dlingo memang sudah melesat maju dibandingkan dengan desa-desa disekitarnya.

Pemantik materi berikutnya bisa disebut pemiliknya Kampoeng Mataraman. Adalah Wahyudi Anggoro Hadi, Kepala Desa Panggungharjo. Ditengah kesibukan yang luar biasa, beliau menyempatkan hadir bersama kami untuk berbagi pengalaman dan cerita menarik. Pria yang akrab dipanggil Wahyudi ini, selain penggagas Kampoeng Mataraman beliau juga konsen pada usaha desa pengolahann limbah minyak jelantah (minyak goreng bekas -red).

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore. Setelah kelima pemateri menyampaikan gagasan, masalah dan solusi, dilanjut sesi tanya jawab. Banyak pertanyaan muncul dari peserta diskusi, untuk mempersingkat acara maka waktu itu kami batasi jumlahnya.

“Acara seperti ini sangat bagus sekali mas, saya sebagai akademisi merasa terbantu dengan adanya pemaparan pemikiran dari pemateri dan para peserta yang lain,” ucap Herry Yulistiyono. Dosen Universitas Trunojoyo tersebut menyampaikan keinginannya mengembangkan BUMDes di daerah Jawa Timur. “Terpikir untuk mendampingi masyarakat dalam menjalankan BUMDes, karena di daerah saya banyak desa itu punya sumber daya alam yang sangat potensial menurut saya,” lanjutnya.

Tidak hanya yang tua saja. Seorang mahasiswa asal Universitas Mercubuana Yogyakarta juga turut hadir dalam acara Diskusi Terbuka sore itu. “Kita jadi tahu mas tentang BUMDes itu apa, menurut saya ini acara penting dan bisa lho kedepannya diadakan di tingkat Universitas. Justru akan muncul pemikiran-pemikiran baru dari anak muda,” papar Sofian kepada tim Bumdes.id.

Sore beranjak petang, pematang sawah mulai samar terlihat dari sebelah selatan Pendopo acara itu. “Akhirnya banyak hal pada diskusi sore ini tadi yang bisa kita berikan kepada bapak Febby untuk di follow up kepada Kementerian Desa dan para stake holder yang terlibat,” jelas Rudy sebelum menyampaikan konklusi.

Seperti Parasut. Ia berguna ketika terbuka. Begitu juga dengan Diskusi Terbuka kala itu. Semakin banyak pertanyaan akan semakin banyak jawaban. Semakin banyak masalah akan semakin banyak solusi untuk ditemukan. Semoga semakin banyak yang terbuka pikirannya, terinspirasi  langkahnya . Dan akhirnya berguna untuk pembangunan desa menuju kebangkitan ekonomi Indonesia.

 

Salam BUMDes!

#TerusBergerak
#BumdesSukses