Kisah Perjuangan BUMDes Karangrejek di Tanah yang Tandus

Syncoreconsulting.com – Tidak ada pohon yang tumbuh dalam sehari. Bahkan di tanah tandus sekalipun, sebatang pohon membutuhkan perjuangan supaya tetap bisa tumbuh, lalu berbuah. Tanpa ada yang mengajarkan, pohon pasti tahu setelah musim kering akan hadir musim hujan. Ini tentang sikap optimis yang harus senantiasa menjadi pegangan.

Daerah GunungKidul Umumnya adalah tanah kekeringan, khususnya Desa Karangrejek Kecamatan Wonosari. Dihadapkan dengan tempat yang sedemikian rupa, justru menjadi lahan perjuangan bagi masyarakat desa setempat untuk menggali potensi dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Itulah yang dilakukan oleh BUMDes Karangrejek dan warganya dalam membangun potensi menjadi sebuah unit usaha dengan gotong royong.

Workshop Pengelolaan BUMDes Desa Se-Kecamatan Jati Agung digelar oleh Bumdes.id dan Sekolah Manajemen BUMDes (SMB) yang bekerjasama dengan UPK DAPM Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan di Hotel D’Salavatore Yogyakarta. Acara yang berlangsung 22 – 24 Maret 2018 ini diikuti oleh peserta perwakilan dari 21 Desa Kecamatan Jati Agung. Setelah diawali dengan foto bersama, Workshop dibuka oleh Cahyo Binarto selaku Direktur Sekolah Manajemen BUMDes (SMB).

Foto bersama peserta Workshop
Cahyo Binarto, Direktur Sekolah Manajemen BUMDes (SMB)

“Dengan workshop ini harapannya kesuksesan BUMDes bisa ditularkan khususnya di desa Kecamatan Jati Agung. Karena suksessnya BUMDes tidak hanya semangat saja tetapi harus punya ilmu bagaimana mengelola usaha yang baik.”, ujar Cahyo

Ton Martono, Direktur BUMDes Karangrejek menjadi narasumber yang menyampaikan materi kepada para peserta pada hari pertama. Dari sinilah perjalanan BUMDes Karangrejek yang daaerahnya tandus diceritakan. Tidak ada kata “menyerah” untuk menggali potensi yang ada. Beliau mengatakan bahwa salah satu langkah yang diambil adalah menggali sumur bor dengan kedalaman 150 meter dimana nantinya air dari sumur tersebut dikonsumsi masyarakat.

Ton Martono, Direktur BUMDes Karangrejek

Dana penggalian sumur berasal dari gotong royong masyarakat yang terkumpul sekitar 450 juta kemudian bantuan dari Pemerintah Desa sebesar 10 juta. “Kami mengajukan proposal ke PU untuk penggalian sumur. Untuk pendistribusian ke masyarakat kami gotong royong. Kami sudah memberikan ke Pades 74 juta tiap tahun.”, tutur Martono

Setelah sumur bor jadi, pelanggan yang awalnya hanya 100 bertambah menjadi 273 pelanggan. Bahkan desa tetangga juga mengkonsumsi. Masyarakat memanfaatkan air bukan hanya untuk kebutuhan minum dan masak, akan tetapi bisa untuk kegiatan bisnis seperti laundry , cuci mobil, pabrik plastik dan pabrik tahu yang memakai air tersebut.

Desa Karangrejek dilalui daerah wisata 32 pantai Gunungkidul. dari latar belakang tersebut, BUMDes membuka rest area untuk para wisatawan dari berbagai daerah. “Menyadari itu adalah peluang, BUMDes kami memanfaatkan itu untuk menjadikannya unit usaha seperti kuliner. 40 penumpang dalam satu bus ada 20 yang turun di kamar keci kemudian beli oleh-oleh, makan, sholat. Dari situlah kami membuka usaha yang tidak mematikan usaha masyarakat kecil.”, jelas Direktur BUMDes Karangrejek.

Yanni Setiadiningrat, Sekretaris Desa Ponggok

Yanni Setaidiningrat, Sekretaris Desa Ponggok yang juga menjadi pembicara pada hari itu menambahkan bahwa perlu kreativitas, inovasi serta sikap otimis dalam mengelola potensi yang ada di sebuah desa. Penyesuaian potensi desa dengan kebutuhan masyarakat merupakan salah satu kunci sebuah unit usaha BUMDes bisa sukses.

“Kita harus optimis bahwa kita bisa. Tidak potensi alam yang tidak bisa dimanfaatkan. Dibutuhkan kreativitas ddan inovasi dari masyarakat. Lahan tandus jika kita sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Potensi tumbuh dari kebutuhan masyarakat.”,

Potensi alam di masing-masing daerah berbeda. Namun, jika potensi alam yang ada di desa sangat minim bukan berarti keadaan itu tidak bisa dimanfaatkan. Berpikir kreatif disertai sikap optimis perlu menjadi pegangan untuk menghadapi tantangan itu. Memetakan potensi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar sekiranya bisa dikembangkan bisa menghasilkan pendapatan yang maksimal.