Rhenald Kasali: Membangun Kekuatan Masyarakat Desa dari Tidak Punya Apa-apa

Syncoreconsulting.com –Jarum yang jatuh di Yogyakarta suaranya terdengar sampai ke Amerika. Kurang lebih begitulah analogi yang menggambarkan kondisi era milenial saat ini. Dunia yang transparan menjadikan apa yang terjadi di belahan Bumi selatan terlihat begitu jelas di belahan Bumi utara. Bak sambaran kilat, sekejab saja sebuah informasi darimanapun bisa sampai ditelinga siapapun.

Dalam dunia science, sedang hangat perbincangan tentang munculnya kota-kota yang semakin besar. Mereka menyabutnya Mega City, dan sepertiganya akan ada di Asia. Tetapi ada yang unik dari fenomena Mega City ini, adalah ketika orang-orang kaya justru mengaplikasikan tindakan orang-orang kurang mampu (masyarakat kelas bawah).

Ketika dunia semakin modern, apa-apa semakin canggih, manusia semakin cerdas. Bermunculanlah inovasi dan metodologi baru diberbagai bidang kehidupan. Misalnya saja dicontohkah oleh Prof. Rhenald Kasali, “saudara lihat di kota sekarang harga naik Taksi bisa 30 ribu rupiah sementara yang lama 100 ribu rupiah, kita lihat juga naik pesawat terbang harganya juga semakin murah. Ini sebenarnya disediakan bagi masyarakat yang berada di bawah (kurang mampu-red).” Dalam kesempatan acara Rembuk Desa Nasional yang diprakarsai Kemendes PDTT bekerjasama dengan Bumdes.id. Waktu itu, pria yang mendapat gelar sebagai Guru Besar di UI tersebut banyak bercerita dan menyampaikan inspirasi dihadapan peserta.

 

 

Dari kiri, Wahyudi A. Hadi (Lurah Panggungharjo), Rhenald Kasali, Rudy Suryanto (founder Bumdes.id)

Orang-orang kota yang dulunya berbelanja melalui supermarket, hypermarkat, melalui toko-toko retail besar, sekarang mereka mulai berpindah karena bisa langsung mendapatkan dari sumbernya. Kesempatan emas yang sejatinya harus dimanfaatkan oleh masyarakat bawah (desa). Karena zaman sekarang sudah tidak mengenal lokasi itu menjadi sebuah hambatan. Ketika internet of things sudah merasuk kedalam habit masyarkat Indonesia.

“Dulu Anda foto di atas air, kini Anda, saudara-saudara berebut foto didalam air. Ini inovasi Desa Ponggok, luar biasa,” ungkapnya sambil tersenyum, dihadapan peserta acara.

Inovasi sekarang ada di desa. Dengan memanfaatkan Internet, bagaimana sebuah kerajinan tenun bisa dibeli oleh masyarakat Kota langsung kepada pembuatnya. Dan Anda lihat toko online sekarang mulai dibanjiri dengan produk-produk lokal hasil kreasi masyarakat desa.

Pria yang mendapat gelar Ph.D dari Illinois University U.S. ini  juga mengungkapkan, bahwa salah satu terhambatnya perubahan di desa karena orang-orang tuanya masih berpikiran constraint. Masyarakat desa haruslah optimis, memanfaatkan perubahan zaman, bukan tergerus olehnya. Jangan pernah mengatakan desa tidak punya apa-apa, itu pandangan yang constraint, sempit dan membatasi diri.

“Kita lihat di Singapura, dia negara yang tidak punya apa-apa, dia tidak punya pantai yang lebih indah dari Pantai-pantai di daerah kita. Dia tidak punya sawah untuk menanam padi barang sepatak pun, dia tidak punya penduduk yang lebih ramah daripada orang Indonesia. Mereka tidak punya pegunungan, mereka tidak punya tanah yang subur, bahkan mereka tidak punya lapangan untuk anak-anak mudanya bermain bola. Tetapi mereka bisa menjadi negara yang lebih makmur dari negera kita, mengapa?.”

Jawabanya sudah tertera pada penjelasan kita diatas. Bahwa masyarakat Singapura tidak percaya pada constraint mereka tidak percaya pada keterbelakangan, keterbatasan. Ketika masyarakat desa kita berpikir tidak punya apa-apa, justru itu adalah sebuah masalah yang melahirkan solusi. Gunakan tenaga dan pikiran kita, karena itu sumberdaya gratis dari nikmat Tuhan yang Maha Kuasa.

Memanfaatkan arus perubahan. Kreativitas masyarakat desa harus terus ditumbuhkan, dibesarkan dan dikuatkan. Studi kasus sudah menunjukkan, bahwa kekauatan besar itu nyata. Kekutatan dari bawah, kebangkitan ekonomi dari desa!

#SalamBUMDes

#BUMDesSukses

#TerusBergerak