Memanfaatkan Media Baru, Fenomena Membangun Startup untuk Berdikari atau Harakiri?

Syncoreconsulting.com – Generasi milenial dan semangat memanfaatkan media baru-internet-menjadi fenomena tersendiri khususnya bagi mereka kaum muda. Eforia membuat Startup menjadi mainstream dikalangan pemuda Indonesia. Dalam bahasa yang ekstrem kita umpamakan pemuda ini tengah menggenggam ‘pisau’ bermata dua.

Kata dalam kutipan di atas mengisyaratkan suatu hal yang baik sekaligus bisa pula bermakna sebaliknya. Tergantung darimana kita menyikapinya.

Apakah pisau ini akan digunakan untuk menodong orang, merampok dan membunuh. Atau pisau ini digunakan untuk memotong daging Sapi, mengupas buah, dan memasak. Terserah Anda memanfaatkannya.

Memulai sebuah bisnis (Startup) itu hal yang baik, tetapi hal baik saja tidak cukup. Keseriusan berusaha dan mampu menemukan peluang yang tepat menjadi modal utama dalam berbisnis.

Mengasah pisau, apakah untuk membantu kita memotong daging Sapi atau justru sebagai aksi harakiri?

Eureka… Saya memulai Startup!

Bak jamur dimusim hujan, startup mulai bermunculan beberapa tahun ini. Sebentar, memangnya makanan apa itu Startup? Tenang kawan, ini bukan sejenis bakpia Jogja ataupun Lunpia-nya Semarang, bukan!

Definisi dari startup sendiri pada mulanya adalah serapan dari bahas Inggris. Menurut Wikipedia, Startup merujuk pada perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Istilah Startup ditelinga kita mulai di asosiasikan sebagai sebuah bisnis yang baru berkembang serta selalu berhubungan dengan media, teknologi informasi dan internet. Mengapa demikian?

Jika kita melihat sejarah, dalam lingkup dunia internasional Startup mulai menjadi fenomena baru pada masa gelombang dot-com (dot-com buble). Sebuah fenomena ketika website menjadi alat yang powerfull sebagai media komunikasi baru. Dalam kurun waktu 1998 sampai 2000-an banyak bermunculan perusahaan yang memulai aktivasi website (www-dot-com) secara bersamaan.

Pada kurun waktu itulah banyak Startup bermunculan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Semakin banyak kaum muda yang melek teknologi dan memanfaatkan media internet sebagai ladang mengeruk uang. Berbagai ide kreatif-pun muncul sebagai solusi atas permasalahan yang ada ditengah masyarakat.

Peluang itu selalu ada!

Perkembangan Startup di Indonesia semakin bertumbuh melaju ke atas. Setiap bulan bisa kita saksikan brand-brand baru mulai bermunculan. Menurut dailysocial.net, sekarang ini terdapat setidaknya lebih dari 1500 Startup lokal yang ada di Indonesia. Pengguna internet yang setiap tahunnya tidak pernah menunjukkan grafik menurun, menjadikan ceruk pasar yang semakin lebar di dunia Startup.

Di Indonesia, berdasarkan riset tahun 2013 terdapat 70 juta pengguna internet aktif. Dengan grafik selu naik dari tahun ke tahun, bisa kita bayangkan betapa banyaknya pengguna internet saat ini. Peluang semakin lebar ketika saat ini ‘media sosial’ yang awalnya adalah sebuah Startup kini mampu menumbuhkan Startup baru. Bagaikan bunga yang berbunga, dan terus berbunga.

Ia memulainya dari bawah lalu bertumbuh ke atas.

Kita lihat bagaimana Achmad Zaky, pemuda asal Kota Sragen ini mampu mengubah pasar konvensional kedalam pasar digital. Bukalapak sukses memanfaatkan ceruk pasar pada kebiasaan masyarakat Indonesia. Pada tahun 2016 Bukalapak menghasilkan transaksi harian mencapai Rp50 miliar. Di tahun yang sama, pageview Bukalapak mencapai 13,4 miliar dengan 1,3 juta pelapak.

Contoh kedua, bagaimana Go-jek mampu mengubah moda transportasi konvensional Ojek menjadi berbasis internet minded. Berawal dari kebiasaan Nadiem Makarim (founder Go-jek) dalam menggunakan jasa Ojek mengantarkannya menjadi miliarder muda. Ia melihat masih kusutnya jasa transportasi Ojek di Indonesia. Mulai dari susahnya mendapatkan Ojek; karena harus menuju pangkalan ojek, sampai biaya yang relatif mahal (belum ada standar harganya) saat itu.

Contoh lainnya, Brian Joseph Chesky dengan Airbnb-nya; Atau layananan travel online Traveloka oleh Ferry Unardi. Atau contoh lain yang lebih familiar ditelinga kita, Steve Jobs dengan Aple-nya, mungkin tidak terlalu mengherankan jika perusahaan IT raksasa sekelas Google dulunya diawali dari Startup-juga.

Tetapi, ada yang layu sebelum bertumbuh.

Tidak sedikit Startup yang mendapatkan pendanaan fantastis dari firma berbasis investor pun harus menyerah. Tentunya disini kita berkaca, modal besar saja tidaklah jaminan sebuah bisnis bisa berkembang. Ada yang mengaku keliru memilih peluang. Ada yang bisnisnya memang kurang cocok dengan iklim masyarakat Indonesia. Ada pula mereka kalah saing dengan Startup serupa yang telah lebih dulu ada. Kita bisa lihat deretan mereka yang bernasib kurang mujur, seperti:

Food Panda (Jasa pesan antar makanan), Kleora (website marketplace social commerce di Indonesia), Beauty Treats (Sebuah situs penyedia persewaan kotak kecantikan), Abratable dan Abraresto (situs pemesanan dan ulasan restoran yang beroperasi di Singapura serta Indonesia), (Situs e-commerce Alikolo) yang diprakarsai seorang pebisnis pemula asal Medan, Valadoo (situs penyedia paket wisata untuk destinasi di Indonesia), Paraplou (situs e-commerce), Kirim (layanan jasa antar barang ini mengklaim telah beroperasi selama tujuh tahun sebelum akhirnya tutup).

Tentu masih banyak lagi yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, baik mereka yang meroket atau justru gulung tikar.

Layaknya medan perang, selalu ada pemenang dan pecundang.

Kenyataan dilapangan berbicara, memiliki skill saja tidaklah cukup untuk memulai usaha. Kita perlu lebih dalam lagi menggali core bisnis yang ingin kita buat. Dengan melihat kebiasaan, kebudayaan, serta kearifan lokal yang ada dibenak customer mampu menjadi nilai tambah sebelum melangkah.

Meminjam istilahnya Rudy Suryanto (senor partner Syncore Indonesia) dalam menentukan Peluang usaha harus dimulai dari memetakan peluang.

“Kalau pakai kacamata enterepreuner yang paling penting adalah memiliki kemampuan untuk mengenali peluang. Berarti itu sudah bisa melihat dari kacamata customer, maka dia bisa membidik peluang dengan tepat. Nah kesalahan terbesar itu kacamatanya adalah kacamata produksi; apa yang bisa saya lakukan, apa yang bisa saya kerjakan? Jadi ini sebenarnya ada gap. Apa yang dia produksi dan apa yang dia punya itu belum tentu sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan preferensi dari calon pembeli (customer),” paparnya kepada tim Syncore.

Pisau sudah Anda asah menjadi tajam, gunakan dengan bijak!

Selama proses mengasah ‘pisau’ tadi, kita berusaha dan terus bergerak. Terlepas dari berhasil atau gagal dalam menjalankan Startup, ada satu hal di sini yang bisa kita petik hasilnya. Hal terpenting itu adalah proses belajar.

Kita sama-sama berproses, dalam proses kita terus belajar. Dalam setiap proses belajar pasti menemui kegagalan. Dan percayalah pada proses yang tidak akan menghianati hasil -kita akan memanen buah- bernama keberhasilan. Tidak ada titik dalam proses belajar. Akan selalu ada koma, koma dan koma. Karena belajar adalah proses yang tidak ada ujungnya.

Selamat berproses, terus belajar, terus bergerak!