Perlukah Pengusaha UMKM Melakukan Aktivitas Branding?

Syncoreconsulting.com – Usaha Mikro, Kecil dan Menengah memiliki peranan penting dalam perekonomian di Indonesia. Menurut data Bank Indonesia, UMKM memiliki proporsi sebesar 99,99% dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia, menyumbang PDB sekitar 60%.

Adanya UMKM memiliki peran penting dalam usaha pembangunan ekonomi nasional seperti mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal. Undang-Undang yang mengatur tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008.

Dari 56.534.592 unit usaha Kecil dan Menengah di Indonesia, berapa banyakkah yang telah memikirkan brand activation? Pertanyaan selanjutnya adalah, memangnya brand itu penting?

Mari kita sama-sama belajar dan menguraikan suatu hal yang kita sebut dengan brand. Dalam bahasa Indonesia kita biasa menyebutnya merk, baik, kita telah sama-sama memahaminya dan tidak perlu memperdebatkan soal makna harfiah tersebut. Mempermudah memahami penting atau tidaknya brand, akan kami coba sajikan contoh nyata di kehidupan kita sehari-hari.

Dahulu, mungkin zamannya kakek nenek kita masih remaja, mereka akan menyebut kendaraan bermotor dengan merknya, bukan nama kendaraanya. “Mereka akan mengatakan -Naik Honda- bukan naik Motor CB, Naik Motor Astrea, Naik Motor Win.” Brand Honda sangat kental di masyarakat kita waktu itu, mengalahkan Yamaha, Suzuki dan beberapa brand kompetitornya.

Atau pada zaman sekarang, ketika kakek nenek juga mungkin ibu dan ayah kita hendak membeli air minum dalam kemasan, mereka akan membeli dengan menyebutkan merknya –bukan nama dari benda yang akan dibeli. Mereka akan membeli dengan mengatakan, “-Tolong belikan saya  Aqua-, bukan tolong belikan saya air putih dalam kemasan.” Tentu ini bukan hal yang perlu diperdebatkan juga, memang kenyataanya seperti itu. Dan benar, berdasarkan riset  MarkPlus Inc dan Nikkei BP Consulting, Aqua menduduki peringkat pertama di Indonesia dalam hal kekuatan merk sampai saat ini.

Kembali ke pertanyaan kita di awal, apakah brand itu penting? Berdasarkan contoh studi kasus di atas, kami merasa bahwa kita harus sama-sama sepakat bahwa brand itu penting. Oke? Setuju ya?

Source: M. Arief Budiman dalam Slideshare

Beralih ke pertanyaan awal yang lupa belum kita jawab, lho yang mana? Ini, soal brand activation. Oh ya, mari kita jawab. Berbicara brand activation adalah membicarakan suatu proses, proses untuk sama-sama menciptakan brand yang kuat di tengah masyarakat. Karena diatas, kita sudah sama-sama sepakat bahwa brand itu penting bukan? Maka langkah selanjutnya adalah membahas prosesnya.

Dari Brand menuju Branding

Ketika brand adalah sebuah merk, maka proses menciptakan brand yang kuat kita sebut sebagai branding. Lalu apa itu branding? Menurut Entrepreneur.com, branding berarti: The marketing practice of creating a name, symbol or design that identifies and differentiates a product from other products.

Di Indonesia kita memiliki Aqua sebagai perusahaan yang berhasil mem-branding produknya. Logo yang diluar kepala kita ingat, nama Aqua yang selalu melekat di benak masyarakat. Pun asosiasi pikiran kita tentang Aqua akan tertuju kepada sebuah produk air minum bersih berkualitas. Contoh lain, produk luar negeri bagaimana brand Apple dengan smartphone dan piranti komputernya berhasil melekat dengan karakter. Berbicara Apple asosiasi pikiran kita tertuju pada sebuah kualitas, teknologi dan prestis.

Branding memerlukan beberapa tahapan untuk menuju brand yang kuat. Syncore Media akan mencoba merangkumnya kedalam beberapa tahapan yang sudah lazim digunakan, seperti:

Brand Awareness

Dalam tingkatan yang pertama ini, kita harus tahu betul apakah konsumen sudah mengerti tentang brand kita. Pada tahap pengenalan awal, biasanya tujuan dari strategi branding yang dibuat adalah bagaimana cara membuat konsumen dari yang tidak tahu menjadi tahu tentang brand dan produk Anda. Tahapan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan banyak media sekaligus, sehingga promosi brand kita dapat ditemukan berulang-ulang di tempat yang berbeda oleh konsumen yang sama. Misalnya Bukalapak, kita melihatnya menjadi sponsor acara tv, kita melihatnya di Facebook Ads, kita melihatnya di website melalui Google Adsense, bahkan kita juga menemukannya di majalah.

Perceived Quality

Maksudnya adalah tentang bagaimana persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas dan keunggulan dari brand kita. Konsumen akan memilah setiap unsur dari brand dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dalam tahapan ini, kita bisa mengatur strategi branding menjadi bagaimana cara membuat konsumen yang tahu tentang produk kita menjadi merasa cocok dengan brand dan akhirnya melakukan transaksi pembelian. Strategi ini bisa dilakukan dengan memperhatikan unsur diferensiasi brand (perbedaan dengan kompetitor). Misalnya, Air Asia yang ingin menyampaikan pesan sebagai maskapai penerbangan yang “murah.”

 

Brand Association

Asosiasi brand adalah tahapan yang berkaitan dengan ingatan konsumen mengenai brand anda. Contohnya jika anda menggunakan figur artis sebagai image dari brand, maka konsumen yang memiliki pandangan positif pada artis tersebut akan melihat brand Anda sebagai sesuatu yang positif juga, dan otomatis membuat persepsi mereka tentang brand anda menjadi semakin baik. Misalnya Madu TJ dengan Agnez Monica.

 

Brand Loyalty

Disini, Anda bisa mengukur tingkat kesetiaan konsumen terhadap brand kita. Strategi yang bisa digunakan adalah bagaimana konsumen yang sudah melakukan transaksi pembelian dapat melakukan pembelian terus-menerus dengan alasan bahwa produk dari brand kita tidak hanya penting dari segi fungsinya, tetapi juga sebagai ekspresi diri dari pribadi konsumen. Karena seorang konsumen yang loyal akan merasa bangga ketika menggunakan produk dari brand kita. Misalnya brand Nike atau Adidas dikalangan anak muda zaman sekarang tidak sekedar sepatu atau jaket sebagai fungsinya lebih jauh lagi, ia bagian dari style dan prestis.

Branding bisa dilakukan untuk jenis usaha apapun, baik itu UMKM yang bergerak dibidang jasa, perdagangan ataupun manufaktur. Pesan dari penulis, apapun jenis usahanya lakukan aktivitas branding yang proporsional dan jujur. Hal ini menjadi penting karena jangan sampai semua waktu, tenaga dan biaya yang Anda lakukan untuk branding sia-sia lantaran keliru dalam menentukan target audiens. Atau justru semua alokasi sumberdaya yang Anda keluarkan tidak sesuai dengan kualitas dari produk yang Anda hasilkan. Jangan sampai target audiens menjadi merasa dibohongi, ini bisa jadi kesahalan fatal dalam aktivitas branding dikemudian hari.