Kampoeng Mataraman: Buah Kerja Keras BUMDes Panggung Lestari

Syncoreconsulting.com – Bayangkan jika, suatu hari ketika kita masuk ke dalam tempat bernuansa budaya yang kental. Kita melihat bangunan berbentuk pendopo, orang-orang yang memakai pakaian adat jawa, serta kuliner yang disajikan khas dari desa, tentu itu akan mengobati rasa kangen kita akan suasana desa. Dan, semua itu terbungkus di dalam Kampoeng Mataraman. Desa wisata yang berada diantara jalan raya dan hamparan sawah ini, menjadi alternatif pengunjung untuk sejenak lepas dari jenuh rutinitas yang terus bergulir.   

Pengunjung hendak menikmati makanan khas desa Kampoeng Mataraman

 

peralatan masak tradisional

Kampoeng Mataraman merupakan salah satu unit usaha BUMDes Panggung Lestari. Desa wisata ini terletak di Jalan Ring Road Selatan No.93, Glugo, Panggungharjo, Sewon, DIY. Panji Kusuma selaku Kepala Unit mengatakan bahwa dengan mengangkat tema kebutuhan pokok dalam adat jawa diharapkan dapat memberikan suasana baru bagi pengunjung. “Kampoeng Mataraman sebagai salah satu unit usaha yang memunculkan nilai kearifan tradisional sehingga orang Jogja tidak kehilangan jati dirinya”, ungkap Panji.

Panji Kusuma, Kepala Unit Kampoeng Mataraman

Hasil yang baik pasti memerlukan sebuah proses yang baik pula. Perjuangan dan kesabaran harus selalu berjalan beriringan. Seperti halnya BUMDes Panggung Lestari dalam perjalanan meraih harapan tidak instan. Kerja otak dan otot yang sepatutnya dikerahkan dalam mendirikan unit usaha Kampoeng mataraman ini. Angin berhembus di antara pepohonan, menyentuh kulit dengan lembut pada siang itu. Dari wawancara dengan Yuli Trisniati, selaku Sekretaris Desa Panggung harjo, mengatakan bahwa pendirian Kampoeng Mataraman berawal dari kerjasama antara Kepala Desa Panggungharjo, BUMDes Panggung Lestari serta Syncore yang merencanakan lahan kosong yang berada di pinggir area persawahan itu menjadi sebuah unit usaha.

Yuli Trisniati, Sekretaris Desa Panggungharjo

“waktu itu harus melalui persetujuan BPD. pak Lurah, Syncore dan BPD melakukan musyawarah untuk menggunakan tanah kas desa yang disewa untuk dijadikan unit usaha. kemudian hasil sewanya untuk mendirikan Kampoeng Mataraman. Untuk pengelolaannya diserahkan ke BUMDes”, jelas Yuli Tidak ada usaha yang sia-sia jika dilakukan dengan niat baik. Pada tahun 2017,  Kampoeng mataraman memiliki penghasilan paling besar diantara unit usaha BUMDes Panggung Lestari lainnya. Dengan capaian itu, unit usaha bertema budaya wong ndeso ini mampu membagi hasil ke PAdes. “Mulai tahun 2016 sampai sekarang tidak ada alokasi dana dari desa ke BUMDes, mereka sudah mandiri. Omset paling besar adalah Kampoeng Mataraman yaitu sebesar 800 juta lebih di tahun 2017. Tapi dana itu masih digunakan untuk operasional serta pengembangan sehingga yang masuk ke desa itu 51 juta. Akan tetapi, Bagi kami kalau BUMDes sudah bisa membagi hasil itu sudah alhamdulillah”, tambah Yuli. Menurut Yuli, saat ini ada beberapa unit usaha yang dijalankan oleh BUMDes Panggung Lestari selain Kampoeng Mataraman diantaranya Pengelolaan Sampah, Minyak, Pertanian, dan Rest Area. Namun, penggalian potensi desa yang dilakukan belum terhenti. Masih ada unit-unit usaha yang akan dikembangkan oleh salah satu BUMDes terbaik ini. “Kami akan mengembangkan telaga desa yang akan dikelola oleh BUMDes, itu bantuan dari BLH Provinsi. Kami belum menarik retribusi untuk sekarang. Ke depannya kami akan menjadikannya sebagai tempat wisata”, pungkasnya Harapan tertuang dari benak Yuli kepada desa-desa yang lain. “Desa yang belum punya BUMDes, bisa segera membentuknya. Usahanya disesuaikan, dimulai dari yang kecil dulu. Kita itu merangkak dari bawah”, tutupnya.