Tangkal Berita Hoax, Perlunya Masyarakat Berliterasi Media

Jangan langsung takjub, jangan merasa kasihan lantaran orang diatas disambar Hiu, jangan menangis ikut ber-empati karena keluarganya mati dimakan Hiu. Jangan dulu, karena ternyata eh ternyata, foto diatas adalah gambar hoax yang kami nukil dari hoax-slayer.com. Gambar tersebut sempat menjadi viral diluar negeri.

 

Syncoreconsulting.com – Katanya, zaman sekarang  adalah zaman dimana informasi tersebar bebas, berlalu lalang, saling salip berpacu dalam kecepatan. Seperti keadaan weekdays-nya jalanan Ibukota Jakarta pukul delapan pagi, namun dengan kondisi 1800. Kerumunan kendaraan –yang seharusnya macet- melaju kencang menghiraukan aturan, dan saling bertabrak-tabrakan.

Mengaku paling demokratis namun perilakunya sungguh liberalis. Kerumunan kendaraan tadi merisaukan, membingungkan, bagi siapa saja yang hendak memanfaatkan. Emisi karbon dioksida tidak digubris, kendaraan tak layak pakai dibiarkan, pun pengendara tidak punya surat mengemudi bebas bekeliaran. Mobil taksi tak lagi seperi mobil taksi, tukang ojek tak lagi seperti tukang ojek, wahana mana yang seharusnya dipilih menjadi kabur dimata khalayak ramai.

Diatas merupakan ilustrasi bagaimana berita hoax beredar luas dimedia massa kita akhir-akhir ini. Ketika Jalanan raya kita sepakati sebagai website, blog, facebook, Twitter, Instagram, dan media massa lainnya. Maka mobil, motor, angkot adalah wahana pembawa berita, apakah itu berita yang valid atau berita palsu (hoax). Sedangkan supir dengan kredibilitasnya adalah author atau si jurnalis pembuat berita. Maka agar tidak dikatakan beritanya hoax, supir harus sehat jiwa dan raga, tidak sedang  mabuk, mematuhi segala peraturan lalu lintas dan memiliki izin mengemudi.

Si Supir seharusnya adalah mereka yang memiliki berbagai persyaratan di atas, ketika syaratnya tidak dipatuhi, maka boleh dong pihak berwajib memberhentikan? Sama halnya dengan berita hoax, jurnalis harus memiliki kredibilitas, bertanggung jawab terhadap konten yang dihasilkan. Kita sederhanakan, maka jurnalis harus memiliki kode etik jurnalistik, sama halnya dengan dokter yang memiliki kode etiknya. Maka, ketika kode etik itu tidak dipatuhi, boleh dong pihak berwenang memberhentikan?

Sayangnya, perkembangan teknologi tidak selalu dibarengi dengan perkembangan sistem hukum yang bisa mengaturnya. Sitem hukum baru berjalan ketika sudah ada korban atau pihak yang merasa dirugikan, sepanjang tidak ada pihak yang melapor di kepolisian, halo? Siapa peduli dengan sistem hukum, entah hoax atau bukan.

hoax-slayer.com

Dan lagi-lagi, perkembangan teknologi  tidak selalu dibarengi dengan kapasitas individu dalam menyaring informasi; mana yang destruktif mana yang konstruktif. Banyaknya orang mengakses media tidak selalu berbanding lurus dengan  pemahamannya terhadap media itu sendiri. Seperti semakin banyak orang menghabiskan waktu menonton tv per hari tidak selalu menunjukkan dia orang yang semakin cerdas, kecenderungan justru sebaliknya. Data dari Nielsen menunjukkan, penduduk Indonesia yang setiap hari dapat menghabiskan waktu berselancar di dunia maya menggunakan komputer selama empat jam 42 menit, browsing di telepon genggam selama tiga jam 33 menit dan menghabiskan waktu di sosial media selama dua jam 51 menit.

Masyarakat butuh literasi media.

Temuan Nielsen cukup menggambarkan, bagaimana masyarakat itu butuh disadarkan dari kesadaran semunya. Bagaimana mengakses media secara bijaksana, tidak larut dengan share, likes, comment dan subscribe. Maka belajar bermedia menjadi cara asik untuk tetap up to date namun tetap bertanggungjawab.

Lalu, apa itu literasi media? Lawrence Lessig dalam bukunya mengatakan, “Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.”

Pastikan darimana sumbernya?

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berita hoax atau berita palsu (fake news) diproduksi dan disebar di media sosial dibanding media mainstream. Hal ini mengingat media mainstream terikat dengan kode etik jurnalistik untuk melaksanakan keberimbangan (cover both side), sedangkan media sosial hampir selalu mengindahkannya.

hoax-slayer.com

Selalu konfirmasi ulang setiap informasi yang Anda dapatkan. Media mainstream (tv, radio, koran, portal berita) apakah dalam bentuk konvensional atau format digital bisa dijadikan bahan untuk ber-literasi media bagi masyarakat.

Berita hoax biasanya menggunakan judul kontrovesri, mengagetkan, bombastis; memancing orang untuk klik and view. Walau seringkali antara judul dan konten tidak nyambung bin sesuai. Alih-alih sesuai prinisp jurnalistik, yang ada beritanya justru membuat resah dan kepanikan di masyarakat.

Empati boleh, tetapi sesuaikan dengan fakta.

Dr. Pamela Rutledge, director of the Media Psychology Research Center, menjelaskan bahwa ketika ada kabar buruk atau kabar tragedi seseorang merasa punya tanggung jawab moral untuk berbagi. Tanpa peduli apakah itu hoax atau tidak. Di media sosial, orang merasa punya beban untuk berbagi penderitaan agar bisa merasa lebih baik. Maksud untuk berempati kepada orang lain justru keliru, apabila empatinya berasal dari berita bohong; yang ada malah timbul kepanikan berantai.

islamindonesia.id

Dilansir dari Tirto.id, terdapat pula pandangan bahwa jika seseorang tidak menyebarkan berita duka tersebut, orang yang tidak menyebar akan mengalami nasib buruk. Ini kerap kita temui pada pesan berantai di WhatsApp.

“Sebarkan ke sepuluh temanmu agar tidak terjadi pada keluargamu; Jangan putus dikamu karena bla, bla, bla; Sebarkan agar tidak terjadi tragedi  ini lagi, bla, bla bla….” Pernah mendapat berita semacam ini? Jangan dijawab, cukup ketik Amin biar masuk surga.!

Hoax everywhere! Be careful

“Isu hoax menghantui persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan sekarang menjadi lebih masif sebab Indonesia akan segera melangsungkan pilkada,” kata Ridwan Saidi seniman asal Jakarta, seperti dilansir  dari Antara.

Semua bidang bisa dijadikan bahan untuk membuat berita bohong. Karena tujuan si pembuat berita adalah menciptakan kepanikan dan penggiringan opini publik kedalam opini yang –dianggap benar- oleh authornya. Memasuki tahun politik, masyarakat harus menguatkan literasi medianya; agar tidak mudah ditipu dengan ucapan dusta. Belajar berliterasi media semoga menjadikan masyarakat Indonesia tidak mudah gusar dengan hadirnya berita negatif yang meresahkan.