Peluang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Menyongsong Program 275 Juta Wisnus 17 Juta Wisman di Tahun 2018

“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

Syncoreconsulting.com –Berbicara dunia pariwisata tidak ada habis-habisnya. Perkembangan teknologi agaknya ikut mengubah model pariwisata yang ada. Kali ini pemerintah melalui Kementerian Pariwisata mencanangkan program wisata digital dan nomadic tourism.

Pada 2018 ini, Kemenpar menargetkan 100 destinasi digital dan nomadic tourism dengan target kunjungan 17 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 275 juta wisatawan nusantara (wisnus). Menteri Pariwisata (Menpar) dalam siaran pers mengatakan, akan membuat sebuah konsep destinasi wisata yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat milenial. Berdasarkan riset Everbrite-Harris Poll pada 2014 membuktikan jika generasi milenial lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk mendapatkan pengalaman (experience) dibandingkan barang (material goods).

“Kami ingin memanfaatkan peluang guna menjaring wisnus, dengan menciptakan 100 destinasi digital yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Konsep destinasi digital ini mengacu pada destinasi yang kreatif, memiliki spot fotogenik untuk diunggah di media sosial, dan viral di media sosial” ucap Menpar dilansir dari Kemenpar.go.id.

Untuk mewujudkan pembangunan 100 destinasi digital tersebut, Kemenpar telah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah di Indonesia, baik level Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota, dan Pemerintah Kabupaten untuk membangun infrastruktur dasar seperti jalan, air, listrik, koneksi WiFi, lokasi sampah, serta toilet. Infrastruktur dasar tersebut bertujuan untuk memudahkan wisnus dalam menikmati kunjungannya selama berwisata di suatu destinasi digital.

Untuk mewujudkan target 17 juta kunjungan wisman di tahun 2018 ini, Kemenpar menyuguhkan strategi wisata baru bernama nomadic tourism atau yang lebih biasa dikenal dengan wisata embara. Wisata embara ini muncul sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan unsur 3A; atraksi (hal yang menarik dan patut ditonton), amenitas atau akomodasi dan aksesibilitas.

Wisata Desa Kampoeng Mataraman

Sebagai bentuk supporting program, aksesibilitas dari wisata embara ini diwujudkan pemerintah dengan sea plane. Kemudahan akses yang akan membawa wisman berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau yang lain di Indonesia. Sebagai pilot project-nya, Menpar akan mencoba di empat destinasi wisata yakni, Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur.

Baca Juga: Belajar Menemu Kenali Potensi Desa dari Bumdes Tirta Mandiri Desa Ponggok

Dalam program ini, BUMDes memilik andil besar dalam mensukseskannya. Kita ambil contoh, kesuksesan Badan Usaha Milik Desa Tirta Mandiri dalam mengelola Umbul Ponggok. Ponggok hadir dalam memanfaatkan euforia swafoto di kalangan masyarakat milenial saat ini. Atau contoh lain, keberhasilan BUMDes Panggunglestari dalam mengelola berbagai bisang usahanya. Salah satunya adalah keunikan rumah makan konsep ‘ndeso’ Kampoeng Mataraman. Di Kampoeng Mataraman, disana Anda akan diajak memasuki zona waktu kembali ke peradaban Jawa Kuno. Kedua contoh diatas sama-sama memiliki nilai wisata –selfieable.

Baca Juga: Apa yang membedakan BUMDes dari jenis usaha lainnya?

Program Kemenpar ini adalah peluang besar bagi desa-desa di Indonesia untuk berkembang dan mengikuti perubahan zaman. Tanggap akan perubahan teknologi yang ada, bisa dilakukan warga desa dengan mengkonsep pariwisata digital. Diawali dengan perubahan mindset warga desa dan solusi alternatif membangun BUMDes dengan pengelolaan yang baik. Bukan tidak mungkin, akan muncul Umbul Ponggok atau Kampoeng Mataraman di daerah-daerah lain di Indonesia ini.