Bagaimana Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Menyambut Gegap Gempita Making Indonesia 4.0?

Semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri. –Leo Tolstoy

Syncoreconsulting.com –Hal yang paling pasti terjadi di dunia ini adalah kematian dan perubahan. Pun ketika kita tidak berbuat apapun, perubahan itu pasti terjadi, setidaknya berubah semakin tua dan layu (mati). Pilihannya adalah bergerak merubah keadaan atau tergilas oleh perubahan dengan tidak memiliki bekal untuk masa depan.

Membahas perubahan, ada yang sedang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini, yap, Making Indonesia 4.0. Presiden Jokowi mengumumkan kepada publik, bahwa Making Indonesia 4.0 akan menjadi salah satu agenda nasional bangsa Indonesia di mana Kementerian Perindustrian akan menjadi penggerak utama dari agenda tersebut.

Making Indonesia 4.0 sebenarnya adalah sikap tanggap dari pemerintah Indonesia menyambut revolusi industri ke empat, atau istilah milenialnya adalah Industri 4.0. Istilah industry 4.0 pertama kali di deklarasikan di Jerman dan merembet cepat ke penjuru dunia.

Revolusi Industri 4.0 bukanlah sebuah isu untuk menebar ketakutan di berbagai belahan bumi manapun, sebaliknya sebuah revolusi –perubahan dengan tempo cepat, yang mana harus disambut. Seperti perubahan pada umumnya, kita tidak bisa berkata tidak, hanya ada pilihan untuk adaptasi atau larut didalamnya.

Bagaimana sejarah telah menceritakan perubahan itu sesuatu yang tidak terhindarkan, kita tentu melihat hilangnya Bemo digantikan Angkot. Kita lihat peran Angkot digantikan Busway, lalu peran Busway perlahan tergantikan Taksi Online. Atau Opang (Ojek Pangkalan) yang mulai sepi dan diramaikan dengan hadirnya Olen (Ojek Online). Selalu begitu polanya.

Dilansir dari Kominfo.go.id, Industri 4.0 berbicara tentang implementasi teknologi automasi dan pertukaran data dalam bidang industri. Melalui perubahan ini, sejumlah penelitian menyebut bahwa hal itu dapat menjadi ancaman bagi lapangan kerja. Sebab, tenaga manusia disebut-sebut akan mulai tergantikan oleh robot dan teknologi automasi lainnya.

Dalam pembukaan Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu (04/04/2018), Jokowi banyak menyinggung soal Making Indonesia 4.0. “Ada sebuah riset oleh McKinsey Global Institute di tahun 2015 yang mengatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 dampaknya akan 3.000 kali lebih dahsyat daripada Revolusi Industri pertama di Abad ke 19. McKinsey mengatakan, kecepatan perubahan ini akan 10 kali lebih cepat dan dampaknya akan 300 kali lebih luas,” kata Presiden.

Menanggapi perubahan industri yang diramal akan 10 kalilipat lebih cepat dari abad 19, bagaimana para pengusaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah harus menanggapinya?. Cara menanggapi paling elegan adalah dengan cukup pahami perubahan itu sesuatu yang pasti terjadi, maka persiapkan “senjata” terbaik untuk menghadapinya. Perang didepan mata, artinya perang ini sebagai peluang –jangan selalu memandang perubahan dari kacamata pesimistis.

Berkaca dari negara China, mereka telah menyiapkan “persenjataan” jauh hari sebelum pemerintah kita membuat program “Making Indonesia”. Pada negara berkembang, Industri 4.0 dapat membantu menyederhanakan suplai produksi, yang dalam hal ini sangat dibutuhkan guna mengakali biaya tenaga kerja yang kian meningkat. Sebagai contoh, rencana 10 tahun Cina yang diumumkan bulan Mei tahun 2017 dengan nama “Made in China 2025”. Mereka menargetkan sektor-sektor inti seperti robotik, teknologi informasi dan energi, dalam upaya mengubah negara yang kini dikenal sebagai “raksasa manufaktur” menjadi “penggerak manufaktur dunia”.

Sedangkan dari dalam negeri, banyak ketakutan muncul lantaran isu tenaga robot dan internet of things kedepan akan menggantikan peran tenaga manusia. Takut itu hal yang wajar, tetapi jangan sampai menjadi paranoid dan gusar.

Baca Juga: UMKM Sebagai Pilar Ekonomi Nasional

Presiden dalam pidatonya di Indonesia Industrial Summit 2018 menjawab ketakutan masyarakat tersebut, “Kita siapkan (salah satunya) yang namanya 10 Bali baru. Karena dalam situasi apapun yang namanya pekerjaan tangan, kerajinan tangan, dan industri kreatif itu akan menampung lapangan pekerjaan yang tidak sedikit. Artinya ya memang harus kita hadapi. Tidak mungkin kita tidak masuk ke sana. Negara lain masuk sementara kita tidak, ya ditinggal kita,” ucapnya.

Lebih lanjut presiden menjanjikan akan dibukanya lapangan kerja baru dalam menyambut revolui itu. “Selain penciptaan lapangan kerja baru, implementasi industri 4.0 di Indonesia harus memastikan pertumbuhan secara inklusif. Pertumbuhan yang juga melibatkan seluruh lapisan ekonomi masyarakat. Tidak hanya usaha besar, tapi juga UMKM di mana ke depannya mereka juga harus dibuat paham dan mudah mengakses teknologi sehingga lebih berdaya saing,” ucap Presiden.

Baca Juga: Perlukah Pengusaha UMKM Melakukan Aktivitas Branding?

Mewujudkan “Making Indonesia 4.0” pemerintah memiliki agenda untuk mewujudkan pembukaan sepuluh juta lapangan kerja baru di tahun 2030 di mana industri Indonesia pada saat itu diharapkan telah mampu mengimplementasikan industri 4.0 dan bersaing dengan negara-negara lainnya.

Dibalik kesulitan selalu membersamainya kemudahan, maka begitulah seharusnya pengusaha UMKM menyambut Making Indonesia 4.0. Bukan pengusaha namanya jika masih melihat kesempitan sebagai masalah, justru dimana terdapat kesempitan disitu mengikuti kesempatan. Selamat datang di era 4.0, mari terus bergerak!