Perlunya Jiwa Kewirausahaan Pada Diri BUMDes

Syncoreconsulting.com – Indonesia,  negara dengan seribu pulau ini disinyalir menjadi negara  pertama di  dunia  yang  memberikan kewenangan kepada pemerintahan desa dalam mengelola  ekonominya, bukan hanya untuk mengelola pemerintahannya  saja.

Pada Tahun 2015 pemerintahan  Presiden  Jokowi – JK  memberikan  20,8  triliun dana  langsung  ke  desa.  Hingga Tahun 2017, dana yang digelontorkan  ke desa meningkat menjadi 60 triliun, artinya setiap desa mendapatkan sekitar 800,4 juta. Berdasarkan  Peraturan  Presiden  Republik  Indonesia  Nomor  131 tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal tahun 2015 – 2019 ada  122  Kabupaten  Daerah  Tertinggal. Kebijakan  Menteri  Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Bapak Eko Putro Sandjojo  yaitu  ada  4  Program  Prioritas  salah  satunya  adalah Badan  Usaha  Milik  Desa (BUMDes).

BUMDes sebagai prioritas dari Kementerian Desa merupakan salah satu lembaga yang diberi ruang untuk menerima Dana Desa. Adapun tujuan dibentuknya BUMDes adalah untuk meningkatkan kemampuan keuangan pemerintah desa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Namun dari sekian banyaknya BUMDes yang terbentuk, masih ada beberapa usahanya yang belum dapat berjalan dengan maksimal. Menurut Rudy Suryanto selaku Founder Bumdes.id, alasan yang mendasari kendala tersebut adalah masalah enterpreneurship (jiwa wirausaha).

“BUMDes yang sudah berdiri akan tetapi tidak berjalan karena dia memakai perspektif pekerja atau produksi. Padahal dalam perspektifnya adalah pasar atau market oriented. Yang mau membeli siapa? Itu dulu yang harus dipecahkan. Bukan kita membuatnya bagaimana. Ketika kita bisa membuat tapi tidak bisa menjual itu akan menjadi problem. Potensi dengan peluang itu berbeda. Potensi itu kalau tidak ada yang mau membeli berarti bukan peluang bisnis”, jelas Rudy

Hal pertama yang harus dipikirkan dan menjadi indikator sebuah peluang bisnis adalah pembeli produk. Model bisnis dan kreativitas juga diperlukan dalam membuat calon pembeli tertarik dengan produk. Selain itu, adanya tata kelola yang baik mengenai bagaimana mengatur hubungan pemilik, pengelola, pengawas dan stakeholder yang ada disekitarnya.

“Jika BUMDes produknya tidak bisa bersaing dengan bisnis biasa yang lain yang sudah mempunyai pengalaman, kualitas yang lebih baik dan harganya lebih murah maka kita jual ideologi”, terang Master Trainer BUMDes ini.

Dalam meraih kesuksesan, BUMDes mesti melakukan sesuatu yang berbeda. “Kesimpulannya nasib desa tidak akan berubah jika warga desa itu tidak mengubahnya. jadi, pihak luar hanya membantu untuk supporting, sedangkan yang berperan adalah dari motivasi. Kita harus memotivasi orang bukan dengan uang tetapi dengan keadaan suatu desa saat ini bisa berubah menjadi lebih baik”, tambahnya

Tak kalah penting dari suatu kegiatan usaha adalah jejaring bisnis. BUMDes membutuhkan jaringan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. “Jika 1000 BUMDes bergabung maka ketika masuk pasar bukan hanya berhubungan dengan satu per satu tetapi dengan jejaring yang kuat. BUMDes kalau mau berhasil, perlu membuat jejaring, jika beberapa desa jalan sendiri-sendiri maka akan kesulitan dalam menjangkau pasar”, pungkasnya.