Cerita Duka Asmat: Pemerintah Sigap Tangani KLB Gizi Buruk, Presiden Dilantik Menjadi Panglima Perang

“651 orang mengidap campak dan 223 orang menderita gizi buruk di Kabupaten Asmat sejak September tahun lalu. Sebanyak 72 di antaranya meninggal.”

Syncoreconsulting.com –TEMPURUNG kelapa muda menjadi menu makan siang Fransisca Patatcot dan anak lelakinya pada Sabtu dua pekan lalu. Duduk bersebelahan di teras kayu Gereja Santo Petrus Paulus, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Papua, mereka asyik mengudap beberapa potong tempurung yang terhidang di atas piring. Ketika tempurung habis, ia menggantinya dengan menyantap sabut kelapa. “Yang penting kenyang, toh,” kata perempuan 45 tahun itu kepada Tempo.co sambil memangku anak lelaki berusia dua tahun yang terlihat sangat kurus.

Kedatangan tim media ini disambut gembira Victor Paya, 56 tahun, Kepala Kampung As. Ia mengaku sudah lama kampungnya tak mendapat pelayanan kesehatan. Kondisi itu mengakibatkan banyak anak dan bayi yang sakit dan kemudian mati tanpa sempat mendapat perawatan medis. Padahal di sana terdapat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) pembantu. “Tapi sudah setahun kosong karena ditinggalkan petugasnya,” kata Victor kepada Tempo.co.

Berdasarkan pantauan pemerintah melalui dinas kesehatan dan semua dinas terkait, menyatakan telah ada perbaikan di Asmat, sehingga status kejadian luar biasa (KLB) dicabut.

Baca juga: Aksi Cepat Kemendes PDTT sebagai Roda Penggerak Kesejahteraan Desa-desa

Kepada para wartawan di Bandara Internasional Mozes Kilangin, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, usai berkunjung ke Kabupaten Asmat, Kamis, 12 April 2018. Presiden Joko Widodo menyatakan kepada media bahwa pembangunan yang tengah dilakukan di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, pasca kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk berjalan dengan baik. Adapun program pembangunan yang dimaksud presiden adalah Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Asmat meliputi pembangunan jangka pendek maupun menengah mulai dari infrastruktur air bersih, sanitasi, jembatan, perbaikan jalan kampung, bedah rumah, dan pembangunan permukiman baru. “Saya lihat tadi semuanya, semuanya berjalan dengan baik. Kita juga  membangun tampungan untuk air baku ada sembilan yang lima di Agats kemudian yang empat dibangun di distrik-distrik yang ada,” kata Presiden.

Terdapat 320 anak setiap hari diberikan kacang hijau, sayur dan makanan bergizi lainnya, dan juga koordinasi yang dilakukan Presiden kepada Bupati Asmat untuk benar-benar memperhatikan gizi anak-anak di Asmat.

Baca juga: Jokowi Turunkan Pajak UMKM Menjadi 0,5 Persen, Iklim UMKM Semakin Bersahabat

Kendala masih terjadi di distrik-distrik yang memiliki akses sulit untuk dijangkau. Oleh sebab itu saat ini pemerintah membangun jalan Trans Papua untuk membuka daerah yang terisolasi.

“Memudahkan kepada kita untuk bisa mengakses kepada distrik, mengakses pada kabupaten, ada koneksi antar provinsi, ada koneksi antar kabupaten dan kota. Arahnya kesana, jadi kalau ini belum bisa kita selesaikan, sulit meyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan distrik-distrik yang ada, di kabupaten manapun,” ujar Presiden.

Pemberian Nama Adat

Presiden diberi nama adat yang telah diputuskan dalam Musyawarah Pimpinan Lembaga Masyarakat Adat Asmat, yaitu Kambepit.

Kambepit adalah nama Panglima Perang Asmat yang berasal dari rumpun Bismania. Bagi Suku Asmat,  Panglima Perang Kambepit adalah pemimpin pemberani dan visioner yang memimpin Suku Asmat memasuki era perubahan dimana masyarakat Suku Asmat mengenal peradaban modern seperti sekarang ini, demikian dilansir dari Presidenri.go.id.

Dengan pemberian nama Kambepit dan gelar adat sebagai Panglima Perang kepada Presiden Joko Widodo,  masyarakat adat Asmat menginginkan agar Presiden Joko Widodo bisa menjadi Panglima Kambepit di masa kini yang memimpin mereka menuju era perubahan dan masa depan yang lebih baik.