Hari Pertama Training On Trainers (TOT) Pendampingan Bumdes Angkatan 8: Perjuangan BUMDes Tirta Mandiri

Syncoreconsulting.com – BUMDes yang baik lahir dari tata kelola desa yang baik pula. Seperti visi yang diemban oleh BUMDes, dimana badan usaha tersebut berdiri untuk memberi nilai manfaat kepada masyarakat desa. BUMDes harus mengisi ruang bisnis yang belum dimainkan oleh swasta maupun pemerintah. Terjebak pada pemikiran tidak mempunyai potensi merupakan hal yang mesti dihindari oleh BUMDes. Perlunya mengalihkan pandangan mengenai permasalahan atau kebutuhan warga desa yang belum terpenuhi menjadi suatu peluang.

Musyawarah Desa menjadi tahap pertama pendirian BUMDes. Adanya RPJMDes semakin memberikan kemudahan bagi desa dalam mengenali potensi maupun masalah pokok yang ada di desa. namun, dari banyaknya desa yang ada di negeri, beberapa yang sudah mendirikan BUMDes. Sisanya, terhambat oleh berbagai faktor yang menurutnya sukar untuk mewujudkan terciptanya suatu BUMDes

Rudy Suryanto, Founder Bumdes.id, memaparkan materi kepada para peserta

Rabu, 18 April 2018, Rudy Suryanto selaku pembicara pada hari pertama acara Training On Trainers (TOT) Pendampingan Bumdes Angkatan 8 menyatakan bahwa alasan sebagian desa belum mendirikan BUMDes karena pihak yang ada di desa mengalami kebingungan. Selain itu, trauma menjadi faktor lainnya. Berbagai macam upaya pemerintah seperti sebelumnya seperti KUD yang gagal. Bayang-bayang kegagalan itu bak menghantui desa untuk melakukan sesuatu yang dirasa memiliki kemiripan dengan program sebelumnya.

Jiwa entrepreneurship mutlak dimiliki pada diri BUMDes, karena pada dasarnya ia merupakan sebuah badan bisnis. Namun, satu hal yang selalu dipegang yakni tujuan untuk mensejahterakan masyarakat. BUMDes harus jeli melihat kesempatan dalam kesempitan. Memberi nilai tambah terhadap usaha masyarakat yang sudah berjalan atau menciptakan usaha yang melibatkan masyarakat sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan yang berujung pada terbantunya perekonomian warga.

Ada beberapa tahap atau masa setelah BUMDes berdiri. Tahapan itu bisa dijadikan sebagai acuan BUMDes dalam melangkahkan kaki kedepannya. “perlu mengetahui posisi BUMDes kita dimana; Start up, Growth, Mature, Decline. Kalau soal produk, mungkin BUMDes masih kalah dengan perusahaan yang menawarkan harga lebih terjangkau serta kualitas yang bagus. untuk itu, kita disini bukan jualan barang, tetapi jualan kenangan” tutur Rudy.

Banyak desa belum membentuk BUMDes. Beberapa BUMDes yang sudah terbentuk masih ada yang belum berjalan dengan baik. Kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan kostumer. Masalah perspektif, bagaimana menjangkau pasar yang membutuhkan produk kita.

BUMDes juga memerlukan model bisnis yang tepat dan tata kelola yang baik. Kreativitas lokal yang ada dapat dikerahkan dalam menarik calon kostumer untuk mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang dihasilkan BUMDes. Tak kalah penting, kebutuhan manajemen yang memadai. “ketika BUMDes sudah besar, perlu merekrut orang yang professional meskipun awalnya gotong royong, harus realistis. Kelembagaan diperkuat dulu, lalu SDM dan perluasan pasar,” tambahnya.

Di desa tertentu yang mempunyai beberapa potensi, diantaranya tempat rekreasi seperti waduk. Namun, bagaimana jika tempat tersebut sudah dikelola oleh Pemerintah Daerah? Apakah BUMDes bisa mengajukan menjadi pengelola?

Rudy Suryanto yang juga merupakan Founder Bumdes.id ini menjawabnya, BUMDes bisa menjadi mitra bagi tempat rekreasi yang telah dikelola tersebut. “dari pengunjung tempat tersebut, kita bisa survey apa saja kebutuhannya. Kebutuhan tersebut bisa kita olah menjadi suatu usaha. Intinya melengkapi yang sudah ada, seperti menambah wahana wisata, membuat rest area,” terang Rudy.

Yanni Setiadiningrat, sharing praktek BUMDes Tirta Mandiri kepada peserta

Sesi materi yang disajikan oleh Rudy Suryanto usai, berlanjut ke sharing praktik terbaik Bumdes di Indonesia yang dipaparkan Yanni Setiadiningrat selaku Sekretaris Desa Ponggok. “Obor besar yang menyala di Jakarta tidak akan mampu menerangi seluruh Indonesia, tapi lilin-lilin kecil yang menyala dari desa-desa akan menerangi seluruh indonesia,” ucap Yanni membuka sesi dengan penuh semangat.

Orang yang kerap disapa “Pak Carik” di daerahnya itu mengatakan bahwa Pemerintah desa sudah diberikan wewenang dan kepercayaan dari masyarakat desa, maka pelayanan masyarakat harus diutamakan. Dana desa sebaiknya tidak hanya difokuskan pada pembangunan Infrastruktur yang akan habis dimakan usia tanpa memberikan manfaat bagi masyarakat desa. Alokasi dana desa hendaknya digunakan untuk meningkatkan SDM dan pengadaan alat produksi sehingga tujuan utama dari desa yaitu pemberdayaan masyarakat bisa tercapai.

“Sejak tahun 2010 kami sudah melakukan pengembangan teknologi informasi untuk pelayanan administrasi publik, data base desa, media informasi dan komunikasi, transparansi dan akuntabilitas, dan website desa. Semua itu bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang cepat, tepat dan transparansi. Sebagai desa mandiri ponggok sudah mampu membiayai beberapa kebutuhan masyarakatnya antara lain: BPJS, satu rumah satu sarjana, pembiayaan untuk membangun rumah tidak layak, dan bantuan untuk para jompo,” terang dia.

Dalam pengakuannya, Desa Ponggok pernah masuk dalam daftar desa tertinggal di Indonesia. Dari faktor tersebut, Desa Ponggok tergerak untuk mendirikan BUMDes. “berawal dari penderitaan masyarakat desa yang pada saat itu tercekik oleh keberadaan bank pelecit (rentenir). Maka desa menghibahkan uang sebesar seratus juta untuk menutupi semua tunggakan masyarakat. Berawal dari penderitaan masyarakat itu desa tergerak untuk mendirikan BUMDes. Hingga saat ini unit usaha desa ponggok terus berkembang diantaranya: pariwisata (umbul ponggok), pengelolaan air bersih, pengkreditan, penyewaan kolam ikan, penyewaan kos kuliner dan toko, persewaan mobil, persewaan gedung, minimarket dan jasa online,” ungkap Yanni.

BUMDes Tirta Mandiri di Desa Ponggok terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Terakhir, tahun 2017 kemarin omsetnya ditaksir mencapai sekitar 14,2 milyar. BUMDes sebagai usaha yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat maka sebisa mungkin usaha yang dijalankan bumdes mampu melibatkan masyarakat desa seoptimal mungkin. BUMDes mesti terus melakukan inovasi, seperti filosofi Bumdes yaitu terus bergerak.

”Salah satu hal yang menjadi kunci keberhasilan BUMDes adalah keikhlasan pemerintah desa untuk memberikan dana dan aset desa untuk dikelola oleh BUMDes. BUMDes dibangun dengan orang-orang yang mau menjadi sukarelawan, yang mau kerja, tidak hanya berfokus pada profit dan gaji saja karena membangun BUMDes tidak semudah membalikkan telapak tangan tapi perlu perjuangan,” pungkas dia.

One Reply to “Hari Pertama Training On Trainers (TOT) Pendampingan Bumdes Angkatan 8: Perjuangan BUMDes Tirta Mandiri”

Comments are closed.