Training On Trainers (TOT) Pendampingan BUMDes Angkatan 8: Desa Panggungharjo Warnai Hari Kedua Para Peserta

Syncoreconsulting.com – Kamis, 19 April 2018, Training On Trainers (TOT) Pendampingan BUMDes Angkatan 8 memasuki hari kedua. Acara yang digelar oleh Sekolah Manajemen Bumdes (SMB) beserta Bumdes.id ini diikuti peserta dari beberapa daerah diantaranya Jakarta, Makassar, Bali dan Kabupaten Bantul. Semangat yang sempat terbagi dipersatukan dalam pelatihan ini. Sesuai dengan yang dijadwalkan, hari ini melakukan kunjungan studi ke Desa Panggungharjo. Tempat yang digunakan sebagai studi lapangan meliputi Balai Desa Panggungharjo, Unit Pengelolaan Bumdes Panggung Lestari serta Kampoeng Mataraman.

Balai Desa Panggungharjo

Pemerintah Desa memiliki peran dalam proses pendirian BUMDes. Tidak hanya itu, dalam pergerakannya, Pemerintah Desa seharusnya mendampingi BUMDes sehingga sejalan dengan visi yang telah ditetapkan. Kebutuhan atau permasalahan yang dialami oleh masyarakat bisa dikatakan lubang yang mesti ditutup oleh BUMDes. Pemetaan potensi berdasarkan problematika desa akan lebih nikmat jika Pemerintah Desa dan BUMDes berkolaborasi sehingga dapat memberikan manfaat kepada masyarakat desa.

Wahyudi Anggoro Hadi, Lurah Desa Panggungharjo

Wahyudi Anggoro Hadi, Kepala Desa Panggungharjo selaku pemateri menyampaikan bahwa dalam rangka memandirikan dan mensejahterakan masyarakat desa, perlu melakukan upaya yang berprinsip pada tata kelola desa yang baik. “upaya untuk menjadikan warga mandiri dan sejahtera hanya bisa dilakukan ketika tata kelola desa dijalankan dengan baik. Upaya tersebut harus senantiasa dilakukan dengan cara yang demokratis,” terang mantan aktivis mahasiswa UGM itu.

Secara geografis, Desa yang penduduknya mencapai 28.000 jiwa berada di dataran rendah. Faktor tersebut menjadikan desa ini tidak mempunyai sumber daya alam atau landscape (pemandangan) yang baik. “Jadi, dalam rangka untuk memberdayakan ekonomi, kita memanfaatkan lifescape nya yaitu tentang hidup dari masyarakat desa mencakup bentang ekonomi, budaya, sosial maupun teknologi yang ada pada masyarakat desa,” jelas dia.

Terletak di daerah yang minim potensi sumber daya alam, orang yang bergelar Sarjana Apoteker ini mengalihkan pandangan ke kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Menurutnya, sampah dihasilkan oleh warga setiap harinya tanpa pengelolaan. Oleh karena itu, sejak tahun 2013, Desa Panggungharjo mendirikan suatu badan usaha milik desa (BUMDes) yang bergerak pada jasa pengelolaan lingkungan. “karena kita tidak punya apa-apa, yang kita miliki hanya manusia yang banyak. Setiap hari orang memproduksi sampah, oleh karena pada tahun 2013 kita mendirikan bumdes dimana usahanya bergerak untuk mengelola dan menata lingkungan,” terang dia.

Unit Pengelolaan Sampah

Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup adalah pembuangan sampah. Hal tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar dimana lingkungan menjadi kotor dan sampah yang membusuk akan menjadi bibit penyakit di kemudian hari. Namun, jika dikelola dengan baik, sampah dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya dan juga kesadaran dari masyarakat untuk mengelolanya.

Di desa Panggungharjo, sampah yang dihasilkan oleh warga desa dikelola oleh BUMDes Panggung Lestari. Adapun minyak bekas diolah menjadi bahan bakar biodiesel. Unit usaha ini membangun kerjasama dengan perusahaan air minum dalam menggunakan energi terbarukan tersebut.

Toto, Kepala Unit Pengelolaan Sampah BUMDes Panggung Lestari (biru)

“Minyak bekas jika berada ditangan pemain usaha nakal akan diproduksi menjadi minyak yang akan diperjual belikan secara massal. Kita mencoba mengolah minyak goreng ini agar tidak masuk ke tubuh. Jika dapat memproduksi secara massal bahan bakar dari bahan tersebut, produk dari desa ini akan dipresentasikan kepada PBB. Tahun 2019 telah diminta produk sebanyak 12.000 liter,” terang Andi, pengelola unit pengelolaan sampah.

Kampoeng Mataraman

Lahir dan dibesarkan di sebuah desa yang  jauh dari hiruk-pikuk kota merupakan satu hal yang paling disyukuri dalam hidup. Hal tersebut berbanding terbalik dengan orang yang besar di kota. Di tengah kejenuhan aktivitas sehari-sehari di kota, tentunya mereka rindu akan suasana di desa yang damai. Kampoeng Mataraman yang terletak di pinggir jalan kota  menyajikan sensasi desa yang bisa dijadikan alternatif untuk refreshing dari keramaian.

Panji Kusuma selaku Kepala Unit Kampoeng Mataraman mengaku bahwa Kampoeng Mataraman berdiri atas dasar pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan yang murni budaya Jogja. Konsep Kampoeng Mataraman ditentukan melalui pemetaan potensi dari hal-hal yang dianggap biasa di desa menjadi peluang usaha. “usaha yang terpenting adalah berani melangkah. Konsep yang dibuat mulanya setengah matang, tapi kalau nunggu matang (sempurna) tidak akan berjalan,” ujarnya.

Panji Kusuma, Kepala Unit Kampoeng Mataraman

Pembangunan Kampoeng Mataraman dibangun dengan sebagian keuntungan dan dana peminjaman. Dengan memanfaatkan kas desa, usaha ini dapat menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar. Tidak pernah membuat proposal untuk dana usaha tapi pakai dana seadanya dulu. Area ini dapat dijadikan alternative bekerja bagi warga desa.

“Mulanya warga yang bekerja disini 5 orang. Syarat bekerja disini yang penting mau bekerja, awalnya Rp700.000,- dan yang dilibatkan yang ekonomi menengah ke bawah. Kemudian dulu banyaknya tamu tidak diimbangi dengan SDM yang banyak juga. Bulan pertama 4000 orang dan bulan-bulan berikutnya semakin bertambah. Saat ini karyawan yang bekerja 47 orang,” terang Panji.

Banyak isu yang memaparkan bahwa produk desa tidak dapat menghasilkan keuntungan, namun hal itu tidak terjadi apabila dikelola dengan baik. Strategi usaha memperkenalkan kearifan lokal desa dapat menarik para pengunjung, terutama orang yang telah lama tinggal di kota.

“Kampoeng Mataraman ini menjadi edu agro, bukan hanya produk dari pertanian saja yang dapat dikenalkan namun juga kehidupan petaninya yang juga diperkenalkan. Para warga yang bekerja disini sudah dapat melayani dengan baik. Strategi yang dilakukan adalah dengan meminta bantuan tamu untuk mengkritik separah apapun demi perkembangan Kampoeng Mataraman yang lebih baik. Daripada membayar konsultan yang mahal-mahal tapi tidak manjur, lebih baik kritik dari tamu,” pungkas dia.

I Kadek Beto Wedayana, salah satu peserta TOT angkatan 8 yang berasal dari Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Bali mengatakan bahwa di desanya memiliki beberapa potensi. Akan tetapi desanya belum mendirikan BUMDes karena masih belum memahami terkait pendirian dan sebagainya. “Acara ini sangat bagus sekali. Dengan mengikuti pelatihan ini, harapannya bisa memberikan gambaran yang jelas dan pemahaman tentang BUMDes dan perancangannya. Sehingga ketika kembali ke desa mengembangkan potensi yang ada,” ungkap Kadek.