Training On Trainers (TOT) Pendampingan BUMDes Angkatan 8 Hari Ketiga, Peserta Melakukan Simulasi Musyawarah Desa

Syncoreconsulting.com – Jumat, 20 April 2018, Training On Trainers (TOT) Pendampingan BUMDes Angkatan 8 yang diselenggarakan oleh Bumdes.id beserta Sekolah Manajemen BUMDes (SMB) memasuki hari ketiga. Hari sebelumnya, peserta melakukan studi lapangan ke Desa Panggungharjo. Pada hari ini peserta tidak hanya diajarkan materi, akan tetapi juga praktek. Materi yang dibahas mencakup Penyusunan AD/ART dan Raperdes, Penyusunan Studi Kelayakan dan Business Plan, Cek Kelayakan Usaha, Simulasi Musyawarah Desa, dan penggunaan Sistem Aplikasi Akuntansi BUMDes (SAAB).

Yeni Nur Hayati menyampaikan materi kepada para peserta

Yeni Nur Hayati selaku pemateri menyampaikan bahwa BUMDes membutuhkan dukungan dari berbagai pihak di dalam desa. Tujuan BUMDes didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perlu disosialisasikan kepada warga sebagai tahap awal pendiriannya. “BUMDES dapat berjalan dengan baik apabila sudah membangun 3 pilar yaitu masyarakat, pemerintah desa, dan BUMDes itu sendiri. Kekuatan terbesar BUMDes ada pada Musyawarah Desa,” terang Yeni.

Sebagai suatu badan yang memiliki peranan dalam memberikan manfaat kepada warganya, usaha BUMDes pantang untuk mengancam usaha masyarakat. BUMDes dapat mengisi celah kekurangan dalam aktivitas usaha masyarakat seperti membantu menjangkau pasar yang lebih luas. “dalam 1 tahun BUMDes belum pasti untung, namun kerja keras kita adalah memastikan kerugian sekecil mungkin. Ketika modal belum turun, belum tentu usaha tidak bisa jalan. Bisa dengan kegiatan layanan jasa. BUMDES dapat berada di tengah-tengah seperti makelar,” ujar dia.

peserta melakukan simulasi musyawarah desa

Dalam Training On Trainers (TOT) Angkatan 8 ini, peserta tidak hanya menerima materi, akan tetapi juga diberikan kesempatan untuk praktik. Setelah sosialisasi dilakukan dalam membentuk tim persiapan pendirian BUMDES,  peserta dibagi menjadi kelompok untuk berdiskusi menggambarkan potensi usaha, analisa kondisi, rencana usaha di desa yang nantinya akan dipresentasikan dalam simulasi musyawah desa.

“60% modal berada di desa, 40% di luar desa. Untuk membuka investor maka diperlukan kepercayaan. Salah satu kendala yang menyebabkan BUMDES tidak bisa jalan adalah legalnya. Legal lebih kepada persiapan draft Raperdes AD/ART. Selain legal, musdes (musyawarah desa) yang perlu disahkan adalah potensi desa,” tutur Yeni.

Pada kesempatan kali ini, Peserta juga melakukan praktik menggunakan Sistem Aplikasi Akuntasi BUMDes (SAAB). Peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok melakukan input data pada aplikasi yang didampingi oleh Yeni Nur Hayati dan Tim Bumdes.id.

“Ketika kita bicara akuntansi ke orang desa pikirannya langsung pusing. Sebelum menggunakan sudah menyerah. SAAB (sistem aplikasi akuntansi bumdes) yang dilakukan menggunakan akuntansi realtime berakses internet bagi setiap bagian yang diberi username dapat mempermudah dalam mengelola keuangan,” ujarnya.

Cahyo Binarto, Direktur SMB (kiri) memberikan sertifikat kepada peserta

Praktik penggunaan SAAB menjadi sesi terakhir hari ketiga atau hari terakhir Training On Trainers (TOT) Pendampingan BUMDes Angkatan 8.  Cahyo Binarto sebagai Direktur Sekolah Manajemen BUMDes (SMB) menutup acara yang telah berlangsung selama 3 hari ini.

“BUMDes pada dasarnya menjalankan usaha. Pak dosen yang berlatar belakang akademisi maupun perangkat desa berlatar belakang dari birokrasi diharapkan dapat memberikan warna dan inspirasi pada BUMDes. Menjalankan BUMDes harus memiliki mental wirausaha. Setelah mendapatkan ilmu selama 3 hari ini, yang memang harus dilakukan khususnya untuk pelaku BUMDes adalah mencoba. Mencoba tetapi gagal lebih baik daripada gagal sebelum mencoba,” pungkas Cahyo Binarto.