Jokowi: Revolusi Industri 4.0 Adalah Peluang Baru Bagi Industri Otomotif Nasional

“Kita harus cekatan, lincah, dan harus siap (pada perubahan)”

Syncoreconsulting.com – Jokowi, mewanti-wanti masyarakat untuk tidak panik dengan adanya revolusi Industri keempat atau bahasa milenialnya revolusi industri 4.0. Menurut Presiden, perubahan dari era industri sebelumnya menuju era industri justru akan membuka peluang baru yang lebih besar. Dalam persiapan menghadari perubagan itu, Kementerian Perindustrian merancang sebuah program kerja dengan nama “Making Indonesia 4.0.”

Baca juga: Bagaimana Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Menyambut Gegap Gempita Making Indonesia 4.0?

Untuk itu, para pengusaha UMKM, ataupun korporasi harus peka terhadap perubahan dan dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan yang ada. “Yang kita perlukan adalah melek. Benar-benar mengikuti, benar-benar mencermati secara cepat, mendalami, dan mempersiapkan. Kita harus cekatan, lincah, dan harus siap,” kata Presiden pada acara pembukaan Indonesia International Motor Show 2018, pada Kamis (19/4/2018).

Event bergengsi Indonesia International Motor Show (IIMS) kembali digelar pada 19-29 April 2018. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan kembali diadakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Menurut informasi Kompas.com, PT Dyandra Promosindo sebagai penyelenggara telah memastikan keikutsertaan beberapa merek motor dan mobil yang siap menjadi peserta pameran. Dari merek mobil, pihak Dyandra menyebutkan beberapa nama, seperti Audi, BMW, Chevrolet, Datsun, Honda, Hyundai, Mazda, Mini, Mitsubishi Motors, Mercedes Benz, Suzuki, Toyota, dan VW.. Sementara itu, perwakilan merek sepeda motor, adalah Aprillia, BMW, Motorrad, Kawasaki, Kymco, Moto Guzzi, Piaggio, Royal Emfield, dan Vespa.

Perubahan tren konsumsi dan skema bisnis yang menjadi dampak dari era industri 4.0 diprediksi dapat mengancam keberlangsungan industri otomotif di Tanah Air. Sejumlah prediksi lainnya juga sempat dibicarakan Presiden dalam kesempatan itu.

Baca juga: Jokowi Turunkan Pajak UMKM Menjadi 0,5 Persen, Iklim UMKM Semakin Bersahabat

Seperti Kehadiran Go-Car maupun GrabCar, disebut-sebut mengubah tren konsumsi dari yang mulanya jual-beli menjadi apa yang disebut Presiden dengan “panggil mobil”. Pelanggan kini bisa mengakses angkutan mobil, kapan saja, di mana saja, dengan menggunakan aplikasi di ponselnya masing-masing. Namun, Kepala Negara tidak begitu saja percaya dengan prediksi-prediksi serupa itu.

“Tren-tren seperti ini harus kita baca. Akhirnya banyak yang menyampaikan, ngapain orang masih beli mobil kalau bisa mengakses transportasi mobil, kapan saja dan di mana saja, dengan menggunakan aplikasi mobile?”

Kita bisa mengetahui, kendaraan yang digunakan dalam layanan itu (Go-Car atau Grab-Car) kini seolah bertindak menjadi kendaraan umum di mana setiap kendaraan bisa dipakai banyak orang dan terus menerus. Hal itu memunculkan kebutuhan yang jauh lebih besar akan perawatan kendaraan secara rutin.

Baca juga: Universitas Asing akan Beroperasi di Indonesia, Bagaimana Nasib Kampus Lokal?

“Ya pasti mobil itu akan harus dirawat lebih intensif. Mobil itu harus sering dicuci. Kalau kita lihat, cuci mobil terutama interiornya itu adalah sebuah jasa yang padat karya. Merawat (memperbaiki) mobil itu adalah jasa yang padat karya,” ungkapnya.

Inilah beberapa peluang yang setidaknya muncul di tengah perubahan-perubahan era industri 4.0 yang harus dipahami bersama. Presiden Joko Widodo yakin, dengan kemampuan Indonesia di bidang otomotif, peluang-peluang itu dapat digarap dengan baik kedepan.