Aturan Registrasi Kartu Seluler dari Kominfo dan Dampaknya Terhadap Industri Telekomunikasi

Syncoreconsulting.com – Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi semakin menyita perhatian publik. Pemblokiran secara bertahap terus dilakukan hingga 30 April 2018, selain itu terdapat perbedaan data antara Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dan perusahaan telekomunikasi.

Dukcapil menyatakan jumlah kartu yang terdaftar sampai dengan akhir Maret lalu sebanyak 351 juta. Dilain sisi, data operator mencatat hanya 304 juta kartu. Setelah melakukan validasi antara nomor induk kependudukan (NIK), kartu keluarga, dan nomor prabayar, Dukcapil tetap mencatat ada selisih karena jumlahnya hanya 317 juta.

Ternyata, menurut pemerintah, kisruh ini bermula dari data ganda di perusahaan telekomunikasi. Di Indosat Ooredoo, misalnya, ada satu NIK untuk mendaftarkan 2,2 juta nomor. Begitu juga di Telkomsel, ada 518.962 nomor dengan satu NIK, lalu XL Axiata dengan 319.251 nomor, Hutchison Tri 83.575 nomor, dan Smartfren 145.868 nomor.

Baca juga: Kementerian Kesehatan Mengimbau Masyarakat untuk Mendapatkan Pelayanan Vaksinasi Meningitis Meningokokus

Menurut President Director & CEO Indosat Ooredoo, Joy Wahjudi kepada katadata.co.id, tidak ada yang dilanggar dengan pendaftaran sebanyak itu. Pembatasan satu KTP untuk tiga akun hanya berlaku bagi konsumen yang meregistrasi sendiri. Sehingga, bila hendak menambah kartu keempat harus ke mitra resmi seperti distributor atau outlet. Di luar kontroversi itu, Joy mendukung kebijakan tersebut yang akan mengubah pola bisnis telekomunikasi 20 tahun terakhir yang banyak mengandalkan penjualan kartu perdana.

Menurut Joy, kurun dua tahun terakhir, industri ini dalam proses transisi, pindah dari telekomunikasi menjadi lifestyle, dari telepon ke data. Itu dialami seluruh operator, tergantung titik di mana mereka saat transisi. Ada yang mulai lebih awal ada yang belakangan.

Baca juga: Kementerian Perindustrian, Targetkan 20 Persen Populasi Kendaraan pada 2025 adalah Mobil Listrik

Indosat melihat akan ada perubahan pada 2018 kedepan, “Biasanya jualan kartu perdana. Kartu perdana kita setop, sekarang berjualan isi ulang, paket data. Di tahap awal akan ada drop. Tapi itu short term karena akan penyesuaian,” Joy menambahkan.

Menurut Joy, akan ada penyusutan sementara. Karena industri telekomunikasi ini 20 – 30 persen ditopang oleh perputaran kartu perdana. Itu hilang dengan berlakunya registrasi. “Tapi menurut saya ini seperti lompatan di industri, tergantung teman-teman operator yang lain juga. Kalau Indosat sudah clear akan mengikutiya  sebab baik juga bagi industri. Istilahnya kami fix the problem for future growth yang lebih sehat,” katanya.

Kepada awak media Joy mengatakan, salah satu cara untuk tetap eksis di bisnis ini adalah dengan mengalihkan penjualan dengan berfokus pada paket data. “Tahun lalu saya bilang, kami sudah mulai alami pressure karena semua pindah ke data. Konsumen tidak telepon lagi, malas karena bisa pakai WA call yang sudah masuk paket data,” terangya memberi solusi.