Melalui Feasibility Study, Rumah Sakit Pertegas Langkah Ke Depan

Syncoreconsulting.com – Feasibility Study atau Studi Kelayakan rumah sakit (RS) merupakan salah satu bagian penting sebelum melaksanakan pembangunan rumah sakit. Feasibility Study merupakan studi yang mencakup bisnis review, strategis, dan posisi keuangan. Studi ini akan memberikan gambaran mengenai pasar yang paling potensial dalam jenis usaha, kapasitas tempat tidur, fase pengembangan dan investasi.

Penyusunan Studi Kelayakan diperlukan untuk melihat bagaimana prospek kedepan dari rumah sakit yang akan dibangun. Sebagai sebuah Strategic Business Unit (SBU), rumah sakit diharapkan menjadi salah satu portofolio yang kuat untuk pengembangan dengan prospek keuangan yang baik.

Menurut Husnan dan Muhamad (2000) dalam buku “Studi Kelayakan Proyek”, tujuan dari dilakukannya studi kelayakan adalah untuk menghindari ketelanjuran penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Tentu saja studi kelayakan ini akan memakan biaya, tetapi biaya tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan resiko kegagalan suatu proyek yang menyangkut investasi dalam jumlah besar.

Maksud dari pembuatan Feasibility Study (Studi kelayakan) pada rumah sakit adalah melihat kelayakan pengembangan program pelayanan kesehatan maupun dengan manajemen rumah sakit secara keseluruhan di waktu yang akan datang, baik dalam jangka pendek hingga jangka panjang.

Perencanaan  rumah sakit sesuai dengan tata aturan Permenkes No 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, sebagai dasar Dinas Kesehatan Kab/Kota dalam memberikan izin operasional kelas C dan D Pasal 67 Ayat 1 “Pemilik atau pengelola yang akan mendirikan Rumah Sakit mengajukan permohonan Izin mendirikan kepada pemberi izin sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit yang akan didirikan, melampirkan b. Studi Kelayakan. Pada Ayat 2 disebutkan kaidah penyusunan studi kelayakan.

Analisis Situasi

Dalam penyusunan Feasibility Study, terdapat analisis situasi yang dilakukan. Analisis tersebut mencakup aspek eksternal dan aspek internal melalui pengumpulan data dengan mengadakan survey lapangan di lokasi. Aspek-aspek tersebut dapat menjadikan Kecenderungan suatu Rumah Sakit dalam melakukan pembangunan baru atau melakukan pengembangan berupa peningkatan status layanan Rumah Sakit tersebut.

Untuk menganalisis aspek eksternal dan aspek internal perlu dilakukan proyeksi berupa forecasting, Aspek-aspek yang dikaji sebagai analisis situasi diharapkan mendapatkan suatu kecenderungan Rumah Sakit setelah melakukan segmentasi dan positioning.

Aspek Eksternal dan aspek internal dianalisis guna melihat peluang yang dapat menjadikan Rumah Sakit untuk terus berkembang di masa mendatang, dapat melaksanakan operasional dengan semestinya serta melihat ancaman yang perlu diantisipasi oleh Rumah Sakit agar tidak menjadi suatu hambatan di dalam operasional Rumah Sakit kedepannya.

Analisis Permintaan

Setelah analisis situasi, Rumah Sakit perlu melakukan analisis permintaan dalam penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study). Berdasarkan analisis aspek eksternal dan aspek internal yang telah dilakukan pada Analisis Situasi, maka dilakukan analisis yang bertujuan untuk mengenali faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang akan dijadikan pertimbangan tehadap kelayakan pembangunan Rumah Sakit tersebut.

Baca juga: Kerja Sama Rumah Sakit Onkologi Solo dengan Syncore dalam Penyusunan Master Plan dan Feasibility Study

Dari hasil analisis tersebut, akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya memaksimalkan Kekuatan (strength) dan memanfaatkan Peluang (opportunity) serta secara bersamaan berusaha untuk meminimalkan Kelemahan (weakness) dan mengatasi Ancaman (threat).

Aspek-aspek kelayakan pada analisis permintaan diantaranya Lahan dan Lokasi Kelayakan lahan dan lokasi tentunya terkait dengan kecenderungan Letak Geografis yang terletak pada wilayah dimana kondisi wilayah disekitarnya sangat mendukung dari aspek penggunaan lahan, infrastruktur dan aksesibilitas serta kecenderungan demografi di wilayah dimana Rumah Sakit berada.

Selain kelayakan lahan dan lokasi, ada juga klasifikasi Kelas Rumah Sakit yang ditinjau dari kecenderungan data penyakit sehingga dapat memperoleh gambaran Klasifikasi Kelas Rumah Sakit sesuai dengan jenis layanannya serta kesiapan SDM yang dimiliki. Klasifikasi kelas rumah sakit mencakup kapasitas tempat tidur, jenis layanan dan layanan unggulan.

Analisis Kebutuhan

Analisis selanjutnya adalah analisis kebutuhan merupakan analisis mengenai kebutuhan yang harus disediakan oleh Rumah Sakit secara keseluruhan yang disesuaikan berdasar analisis permintaan yang telah dilakukan. Analisis kebutuhan ini dapat memberikan gambaran mengenai rencana pengembangan dari Rumah Sakit tersebut dilihat dari aspek :

  1. Kebutuhan lahan Rumah Sakit, dapat dihitung berdasarkan Program Ruang Rumah Sakit serta kebijakan Pemerintah Daerah setempat mengenai Intensitas Bangunan berupa Koefisien Dasar bangunan (KDB), Koefisien Lantai bangunan (KLB), Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDH), serta Peruntukan Lahan yang mengizinkan digunakan sebagai Lahan yang dapat dibangun Rumah Sakit.
  2. Kebutuhan Ruang, secara keseluruhan dari Rumah Sakit dapat dihitung 1TT sebesar 80 m2 – 110 m2 disesuaikan dengan Bentuk dan Klasifikasi Rumah Sakitnya.
  3. Peralatan Medis dan Non Medis, disesuaikan dengan Kapasitas dan Jenis Layanan dari Rumah Sakit tersebut.
  4. Sumber Daya Manusia (SDM), Dalam memenuhinyanya, perlu mempertimbangkan/ memperhitungkan tenaga se-efisien dan se-efektif mungkin agar menjadikan suatu Manajemen Pengelolaan Rumah Sakit yang optimal.
  5. Organisasi dan Uraian Tugas, akan disusun sesuai dengan Bentuk dan Klasifikasi rumah sakit.

Analisis Keuangan

Yang paling akhir, Analisis Keuangan. sebuah analisis yang memberikan gambaran tentang rencana penggunaan sumber anggaran yang dimiliki, sehingga dapat diketahui tingkat pengembalian biaya yang akan diinvestasikan. Dengan demikian maka pihak pemilik/ investor dapat melihat tingkat keuntungan yang mungkin akan diperoleh. Adapun aspek keuangan yang akan dianalisis terdiri dari: Rencana Investasi dan Sumber Dana, Proyeksi Pendapatan dan Biaya, Proyeksi Cash Flow, Analisis Keuangan.

Menurut Wibisono Adi, Leader Strategic Management Consulting (SMC) Syncore, keuangan merupakan aspek akhir dan utama dalam sebuah feasibility study. “selain analisa pasar dan teknis, tak kalah penting yaitu analisa keuangan. adapun analisa keuangan itu mencakup ROI, IRR, PBP, NPV,” terang dia.

“Dengan Feasibilty Study kita dapat mengetahui perkiraan pendapatan. Perkiraan ini ada dasarnya juga. Dari pendapatan perusahaan sebelumnya bisa dijadikan analisa untuk membuat forecasting (suatu perkiraan terhadap apa-apa saja yang mungkin akan terjadi di masa depan),” pungkasnya.

Sebelum menjalankan sebuah usaha, Studi kelayakan atau Feasibility study memang sangat diperlukan. Dengan analisa tersebut, tentunya dapat meminimalkan risiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan. Kondisi masa yang akan datang penuh dengan ketidakpastian sehingga perlu untuk melakukan analisis studi kelayakan untuk menimimalisir resiko.