Master Plan, Pedoman Rumah Sakit Lakukan Pengembangan

Syncoreconsulting.com – Berdasarkan Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 7 ayat (1), Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan.

Dalam pembangunan fasilitas sarana prasarana rumah sakit, diperlukan adanya suatu perencanaan yang sistematis secara keseluruhan dalam jangka panjang atau yang disebut dengan Master Plan. Meskipun dilaksanakan secara bertahap, perencanaan ini akan menjadi dasar acuan penyusunan perencanaan desain bangunan secara detail suatu Rumah Sakit. Perencanaan tersebut selanjutnya akan digunakan dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi fisik guna memperoleh hasil yang maksimal.

Penyusunan Master Plan (Rencana Induk) merupakan salah satu tahapan atau bagian dari pekerjaan yang dilakukan pada Tahap Awal Pekerjaan Perencanaan dan Perijinan, yang disusun dengan berdasarkan hasil Studi Analisis terhadap Kondisi Potensi, Kebijakan dan Batasan yang ada sehingga dapat dihasilkan suatu perencanaan Master Plan yang berkesinambungan.

Menurut Aditya Mahendra, Tim Strategic Management Consultant (SMC) Syncore, Master Plan itu penting bagi Rumah Sakit karena digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan diri baik fisik maupun pelayanan terhadap masyarakat. Perencanaan fisik, sumber daya manusia, serta peralatan merupakan bagian penting dalam realisasi pekerjaan Master Plan.

“dalam Master Plan ini, kajiannya lintas disiplin ilmu. Kalau di Rumah Sakit ada kajian medis, teknik arsitektur, ekonomi, sosial, politik pun juga ada. Jadi, Master Plan itu Lintas Kajian. Kajian demografi ada, kita juga melihat di sekitar lingkungan kita misalnya seberapa banyak Rumah Sakit Kanker, maupun banyaknya kepadatan penduduk,” ungkap dia.

Baca juga: Kerja Sama Rumah Sakit Onkologi Solo dengan Syncore dalam Penyusunan Master Plan dan Feasibility Study

Sebagai dasar acuan dalam mewujudkan Rencana Pembangunan dan Pengembangan suatu Rumah Sakit yang baik dan benar, Penyusunan Master Plan akan menjadi rujukan bagi pengelola rumah sakit maupun bagi konsultan perencana sehingga terwujudnya persamaan persepsi.

Adapun ruang lingkup penyusunan Master Plan (Rencana lnduk) ini mencakup :
Perencanaan pembangunan dan pengembangan Fisik

Secara langsung, fisik rumah sakit mempunyai keterkaitan erat dengan layanan medik. Rumah Sakit dengan yang baik akan memberikan kenyamanan bagi pasien yang bisa menjadi salah satu faktor yang mendukung proses penyembuhan pasien dan juga produktivitas tenaga medis.
Penyusunan Program perencanaan manajemen yang mencakup Perencanaan pembangunan dan pengembangan Ketenagaan, Kebutuhan, Peralatan dan Pembiayaan yang dikaitkan dengan pendekatan perencanaan.

Sesuai dengan UU Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit yang terkandung dalam Pasal 5, perlunya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan SDM suatu Rumah Sakit dalam rangka peningkatan kemampuan pelayanan kesehatan. Hal ini bertujuan untuk memenuhi tugas Rumah Sakit sebagai badan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.
Perencanaan design arsitektur, Sipil engineering, Mekanikal Elektrikal, Landscape, dan tata letak bangunan rumah sakit yang ideal menurut sudut pandang medis dan menyesuaikan dengan kebutuhan user.

“Zonasi memiliki beberapa kategori diantaranya zonasi privat, semi privat, dan publik. Kalau utilitas itu mengenai tata letak bangunan diatur sedemikian nyaman sesuai dengan alurnya,” kata dia.
Perencanaan pembiayaan dan tahapan pembangunan

Adit menjelaskan perbedaan Feasibility Study dan Master Plan dari segi perencanaan pembiayaan. Analisis Feasibility Study itu lebih mengarah kelayakan suatu usaha. “Jadi ia (feasibility study) tidak melihat seperti apa teknis pembiayaannya. Sedangkan Master Plan itu pedoman pengembangan Rumah Sakit entah dari sisi teknis, jenis layanan dengan memperhatikan beberapa aspek yang menjadi pertimbangan,” jelas seorang Project Manajer ini.

Baca juga: Melalui Feasibility Study, Rumah Sakit Pertegas Langkah Ke Depan

Perencanaan penerapan teknologi kesehatan dalam operasionalisasi rumah sakit beserta pemanfaatan lahan rumah sakit secara tepat ditinjau dari sudut lingkungan dan kota.

Penerapan teknologi pada bidang kesehatan tentu dapat memberikan manfaat bagi upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan di suatu daerah. “Dari segi fasilitas, tergantung target atau sasaran dari Rumah Sakit,” ujarnya.

Dalam skema rencana pengembangan fisik Rumah Sakit, pekerjaan penyusunan Masterplan merupakan proses kelanjutan dari pekerjaan Feasibility Study. “Master Plan lebih ke teknisnya. Habis itu enginering dan yang terakhir adalah pelaksanaan konstruksi. Penyusunan Master Plan hanya sekali, diatur sebagai pedoman awal untuk mengembangkan diri,” terang Adit

Alur pekerjaannya adalah sebagai berikut :

Wibisono Adi, Leader SMC Syncore menambahkan bahwa Master Plan disusun untuk jangka 5 tahun ke depan atau lebih bagi Rumah Sakit yang berkeinginan untuk melakukan pengembangan. ”jadi, Master Plan itu adalah rencana membangun rumah sakit yang seperti apa. Lebih dari itu Master Plan juga bercerita mengenai lingkungan sekitar Rumah Sakit. Pesaing, marketnya seperti apa, penduduk sekitar, bahkan akses ke rumah sakit juga ada,” pungkasnya.