Harmoni Pemerintah Dorong Kemandirian Teknologi Dalam Negeri

Pemerintah melalui Menteri Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) terus memberikan dorongan terhadap tumbuhnya inovasi dari berbagai sumber.  Terobosan yang telah hadir, tidak hanya berasal dari hasil riset peneliti dan akademisi namun masyarakat juga ikut berperan dalam melakukan pengembangan.

Jumat/18 Mei 2018, Menteri Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meninjau lokasi insenerator sampah, sebuah produk inovasi yang dikembangkan oleh salah satu warga di Desa Megu Gede, Kecamatan Waru, Kota Cirebon, bernama Siswanto. Dalam peninjauannya tersebut, Menteri Nasir tidak sendiri. Dia didampingi oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati.

Asap jernih dengan mesin Insenerator

Dilansir dari ristekdikti.go.id, Menteri Nasir berpendapat bahwa polusi pembakaran sampah menjadi masalah utama dan merusak lingkungan. Limbah hasil pembakaran sampah Insenerator disinyalir memiliki nilai tambah dan kegunaan. Upaya pemerintah dalam menumbuhkan ekonomi masyarakat dapat terwujud melalui penemuan ini.

“Dengan insenerator ini asap (polusi pembakaran sampah) dapat ditangkap dan dijernihkan. Limbahnya dapat menghasilkan pupuk cair organik, pestisida, pupuk granul, dan akan menjadi zero waste (tidak ada limbah dalam di lingkungan). Sehingga dapat memangkas biaya produksi pertanian dengan menggunakan pupuk organik yang dihasilkan limbah insenerator,” ungkapnya.

Dalam kunjungannya di Kota Wali tersebut, Menteri Nasir menaruh kepercayaannya dalam hal pengelolaan kepada masyarakat desa. Sedangkan dalam hal pendampingan inovasi hasil riset, dipercayakan kepada Ditjen Penguatan Risbang Kemenristekdikti yang bekerjasama dengan badan penelitian dan pengembangan.

“Kalau diambil pemerintah nanti rakyatnya nganggur. Biarkan masyarakat desa mengelola, namun pemerintah akan mendampingi. Saya sudah minta Ditjen Risbang bekerjasama dengan dengan LIPI untuk meneliti lebih lanjut produk turunan dari limbah insenerator serta meminta BSN menstandarisasi mesin insenerator tersebut secara nasional,” jelasnya lebih lanjut.

Siswanto Hartoyo mengungkapkan bahwa dirinya mampu memproduksi mesin insenerator dalam waktu maksimal 3 hari, yang di bandrol seharga 80 juta per unitnya. Waktu yang relatif singkat untuk memproduksi mesin yang memiliki kapasitas 1,5 meter kubik sampah ini.

Pemanfaatan tabung gas

Selain itu, Menteri Nasir juga menghadiri pameran dan uji terap yang hasil litbang maritim dan energi. Menteri Nasir beserta Anggotta Komisi VII DPR-RI, Herman Khoiron dan Kepala Balitbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dilanda keberuntungan. Mereka berkesempatan menguji coba langsung ‘hand tractor’ untuk petani padi dan kapal nelayan berbahan bakar gas.

Kota Cirebon ini menggambarkan bahwa kreatifitas dapat memberikan manfaat yang luar biasa, dalam mengais rezeki, para petani dan nelayan jadi terbantukan. Sejauh ini converter kit yang dipasang dan memanfaatkan tabung gas rumah tangga terbukti bisa menghemat biaya para petani dan nelayan bahkan dengan gas non subsidi sekali pun.

Serangkaian kunjungan Menristekdikti beserta beberapa pejabat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Kemendesa PDTT, dan Komisi VII DPR-RI merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam mendorong kemandirian teknologi dalam negeri dengan menjadi Kerjasama lintas Kementerian yang terjalin dalam sebuah harmoni “Peningkatan Kemandirian Iptek Dalam Negeri”.