Syncore Siap Menaikkan Kelas UMKM Yogyakarta, Bersama UNESCO

Dalam rangka meningkatkan kelas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau yang dikenal dengan UNESCO, bekerjasama dengan Syncore Indonesia untuk melaksanakan kegiatan “Training & Bootcamp Wirausaha Muda Kreatif”. Pada hari Sabtu, 19 Januari 2019 kegiatan training dilakukan di Balai Konservasi Borobudur. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 40 orang perwakilan wirausaha, perwakilan dari UNESCO, dan tim Syncore. Jenis usaha yang dijalankan oleh peserta beragam, seperti fashion, visual desain, seni kriya, makanan, dan pariwisata.

Sesi pertama diawali dengan presentasi dari Bapak Rudy Suryanto, SE., M.Acc., Ak., CA, selaku Senior Partner Syncore, mengenai Pola Pikir Wirausaha Muda Kreatif Indonesia. Untuk menaikkan kelas UMKM, para pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan omzetnya minimal Rp 1 Miliar tahun ini. Hal ini dilakukan karena UMKM merupakan bagian dari penggerak perekonomian terbesar di Indonesia.

Small is the new big. Usaha kecil jika digabung dengan banyak usaha kecil lainnya akan menjadi kekuatan yang sangat besar,” ungkap Rudy Suryanto.

Atas kerjasama UNESCO dengan Syncore, peserta UMKM berkesempatan melakukan konsultasi dan pendampingan dengan Syncore Indonesia selama tiga bulan ke depan. Peserta diharapkan aktif melakukan konsultasi agar ada perubahan ke arah yang lebih baik secara signifikan.

“Apa yang Anda bayangkan, bisa Anda kerjakan. Jika Anda bisa mengerjakan, maka Anda akan bisa mencapai tujuan,” tambahnya.

Pada sesi tanya jawab, peserta berantusias bertanya kepada narasumber untuk membagikan tips mengembangkan dan mempertahankan usaha. Kemudian narasumber memberikan beberapa nasehat untuk memotivasi para pelaku usaha. Pada kegiatan ini narasumber menjelaskan tentang mental seorang wirausaha. Yaitu harus dapat melihat peluang di setiap masalah, percaya pada usaha sendiri, dan berani mengambil risiko.

“Bercita-citalah jadi orang yang paling bermanfaat untuk orang lain, maka Anda akan terus dibutuhkan,” pungkas Rudy Suryanto.

Tidak hanya membangun mental wirausaha, karena yang juga penting adalah para pelaku usaha dituntut untuk dapat menyusun laporan keuangan. Hal tersebut dilakukan guna pengambilan keputusan. Pada sesi kedua, peserta diberi kesempatan untuk mengimplementasikan pemaparan dari Tri Susilo Wahyu Aji, selaku Tim Syncore Indonesia, mengenai delapan langkah akuntansi. Peserta menginput kondisi keuangan tahun 2018 dan proyeksi tahun 2019 ke dalam kertas kerja yang telah dibagikan. Kertas kerja tersebut meliputi kartu kondisi selama tahun 2018, kartu target 2019, kartu inisiatif, kartu rencana anggaran belanja (RAB), proyeksi laba rugi 2019, break event point, rencana kegiatan dan anggaran tahunan 2019 (RKAT), dan proyeksi realisasi anggaran 2019. Peserta tampak berantusias dalam kegiatan ini, dilihat dari partisipasi dan keaktifan mereka selama acara berlangsung.