Jelajah Desa Wisata Dlingo

Bicara mengenai tempat wisata yang di Jogja mungkin tak akan ada habisnya. Ada banyak sekali tempat wisata yang dapat dikunjungi. Mulai dari keelokan panoramanya, keindahan pantainya sampai keunikan objek yang di tawarkan pun tak terhitung jumahnya. Dan satu yang pasti, bisa dibilang terjangkau biayanya.

Orang jogja sendiri saja sampai tak mampu menjagkau semuanya, satu per satu, karena saking banyaknya, temasuk saya.

Banyak tempat-tempat wisata tersembunyi yang belum diketahui oleh banyak orang. Salah satunya adalah Desa Dlingo, desa yang berada di wilayah Kabupaten Bantul, DIY.

Nah, tepat hari Sabtu tanggal 8 April 2017, Bumdes.id dan Sekolah Manajemen BUMDES melakukan jelajah desa wisata di Desa Dlingo. Oh iya, kegiatan jelajah desa wisata dlingo ini merupakan event kerja sama Bumdes.id, Sekolah Manajemen Bumdes SYNCORE dengan BUMDes Dlingo, BUMDes yang merupakan desa mitra Bumdes.id.

 

Dan… salah satu desa yang terpilih untuk tujuan tempat wisata adalah Desa Dlingo. Nah, 3 tempat wisata yang berhasil terpilih adalah Gunung Pasar, Goa Sholawatan, Grojogan Lepo yang masih menjadi satu area di Dlingo.

Saat tahu agende jelajah wisata desa di Desa Dlingo yang notabenya ngak begitu jauh dari kota Jogja, rasanya ngak menyangka. Ternyata ada ya desa yang sebenarnya dekat dari kota Jogja tapi selama ini terlewatkan.

Papi-pagi pukul 08.30 rombongan Jelajah Desa Wisata berkumpul disalah satu titik pertemuan yang berada di pertigaan Piyungan. Sebenarnya titik pertemuanya ada 2, rombongan pertama di titik pertigaan Piyungan, rombongan kedua berkumpul di jalan Imogiri. Jadi, Desa Dlingo ini bisa di jangkau melalui jalan Wonosari maupun lewat jalan Imogiri Timur. Dan saya termasuk ikut di rombongan pertama yang lewat jalan Wonosari untuk menuju Desa Dlingo.

Setelah semua rombongan berkumpul, kita berangkat bersama dengan menggunakan sepeda motor. Dengan melewati jalur Piyungan – Patuk Wonosari – Dlingo sejauh 22 km.

Jangan dikira perjalanan 22 km itu akan membosankan, karena disepanjang jalan kita disuguhi dengan pemandangan indah dari pohon-pohon tinggi nan hijau yang berada di kanan-kiri jalan, kita juga dapat menikmati pemandangan kota Jogja dari atas saat perjalanan.

Bahkan, saat kami melintasi dusun-dusun, ada hamparan ladang-ladang yang di tanami berbagai jenis tanaman pangan mulai dari ketela, padi, kacang yang menambah warna-warni alam.

Setelah 45 menit perjalanan, kita sampai di kelurahan Desa Dlingo. Sesampainya disana rombongan kita disambut oleh Lurah Dlingo, Bapak Burhan. Beliau mengucapkan terimakasih karena telah menjadikan Dlingo sebagai tempat jelajah desa wisata oleh SYNCORE.

Gunung Pasar

Setelah itu, rombongan kita yang berjumlah 36 orang pun mulai menjelajah di lokasi pertama yang kami tuju yaitu “Gunung Pasar”. Beruntungnya, salah satu warga Desa Dlingo mengantar rombongan kami ke lokasi tujuan.

Lokasi “Gunung Pasar” tidaklah jauh.  Sekitar 10 menit dari kelurahan dengan mengendari sepeda motor. Karena letaknya di atas gunung, untuk sampai lokasi kita harus berjalan kaki sekitar 100 m lagi.

Sesampaianya di Gunung Pasar, kami dipersilahkan menikmati welcome drink istilah kerennya, dengan teh manis dan getuk, makanan dari singkong yang dihaluskan dengan campuran gula.

Meskipun hanya segelas teh manis dan sepotong getuk rasanya nikmat duduk memandangi pemandangan dari atas gunung dengan bergelar tikar yang disediakan oleh warga setempat.

Keramahan warga yang sebagaian besar sudah sepuh dan sebagian lagi sudah separuh baya ini, menambah suasana jamuan untuk kami menjadi hangat dan akrab, meskipun baru sekali bertemu.

Setelah menikmati segelas teh manis, Mbah Tori, seorang juru kunci Gunung Pasar menceritakan legenda asal mula makan yang ada di atas bukit itu berasal. Menurut cerita Mbah Tori, Gunung Pasar ini merupakan tempat Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan melakukan perjanjian. Untuk cerita lengkapnya seperti apa, saya tidak begitu mendengarkan dengan detail, karena sambil diajak ngobrol teman. Maaf ya Mbah Tori.

Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Mbah Tori, sembari menikmati suguhan tradisional khas ndeso, rombongan kita pun berpamitan.

Goa Jalakan

Rombongan kami pun menuju ke titik lokasi yang kedua, Goa Jalakan yang dikenal juga dengan sebutan Goa Sholawatan. Lokasinya tidak jauh dari Gunung Pasar tadi, dan masih di daerah Dlingo. Dengan mengendari sepeda motor kita masing-masing, sekitar 300 meter jauhnya, sampailah kita di Goa Sholawatan.

Untuk menuju Goa Sholawatan, kita harus berjalan kali lagi untuk mencapai lokasi. Satu persatu rombongan kami menyusuri jalan mengikuti petunjuk langkah kaki dari pemandu yang mengantar kita.

Kita harus menuruni ngarai-ngarai yang terjal untuk mencapai lokasi ini, dari kejauhan sudah terdengar backsound rebana yang dimainkan.

Goa ini tidaklah terlalu luas, lebarnya sekitar 20 m. Didalam goa tersebut ada kelompok penabuh rebana dan nyanyian sholawatan dilakukan warga setempat yang hampir semuanya sudah sepuh hampir 60 tahunan. Sudah 21 generasi dengan kurun waktu 300 tahun setiap momen tertentu rebana dimainkan.

Pemandu kami mengatakan “mereka bisa menghabiskan 1 buku dalam semalam untuk memaikan tabuhan tersebut”. Wow! Meski sudah “sepuh” tetap energik.

Diluar goa, kita disuguhi dengan ketela bakar dan wedang, yang entah apa namanya, rasanya manis hangat dan warnanya merah. Semacam wedang tradisional. Dan entah kenapa, itu begitu nikmat.

Setelah puas menikmati ketela bakar, rombongan kami pun menuju titik lokasi yang ketiga.

Grojogan Lepo.

Lokasinya sekitar 350 m dari Goa sholawatan.

Hal yang paling menyenangkan saat jelajah desa wisata di “Grojogkan Lepo” adalah menemukan kedamaian dan ketenangan sembari menikmati keindahan alam sekitar.

Hijaunya pepohonan dipadu dengan gemericik air dari gerojogan seolah menjadi perpaduan keindahan alam yang nyaris sempurna untuk dinikmati disela-sela kesibukan kerja.

Suasana itulah yang kami rasakan bersama dengan rombongan, ketika menyusuri Grojogkan Lepo yang menyatu dengan alam.

Setelah cekrak cekrek dengan kamera dan video masing-masing, kami pun makan siang bersama. Menu makan siangnya pun istimewa. Nasi jagung, makanan yang terbuat dari 100% jagung yang telah diolah dan dihaluskan.

Perjalanan jelajah desa wisata kami pun lengkap sudah.

Apabila anda tertarik untuk dapat trip serupa, bisa kontak kami

Be Sociable, Share!