Kilas Balik

kilas balik

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Terbukti Tahan Banting Di era Krisis

Sejak lama sektor UKM dan UMKM telah dipromosikan dan dijadikan sebagai agenda utama pembangunan ekonomi Indonesia. Bukan tanpa alasan, sejarah perjalanan bangsa Indonesia menyatakan bahwa kedua sektor tersebut adalah salah satu bentuk usaha yang paling tangguh menghadapi Krisis Ekonomi.

Jika melihat kebelakang, bagaimana badai krisis 1998 yang telah memporak-porandakan ekonomi Indonesia. Akan jelaslah bahwa saat itu ada banyak pelaku usaha yang tumbang menyusul meroketnya kurs Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah (Rp)

Sebelum krisis ekonomi 1998, ekonomi Indonesia tumbuh begitu meyakinkan. Rupiah tergolong stabil (terdepresiasi lebih kecil 5%) dan Indonesia sempat mendapat julukan “Macan Asia”.

Krisis tersebut sebenarnya terjadi sejak awal Juli 1997, mulai saat itu hingga akhir tahun 1998 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot. Hal itu menyebabkan harga-harga naik drastis.

Bersamaan dengan itu, perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik yang dirugikan dengan perubahan nilai tukar tersebut melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Akibatnya jumlah pengangguran meningkat dan bahan-bahan sembako semakin langka.

Ditengah kondisi yang serba susah itu, masyarakat mulai melirik sektor usaha apapun yang dapat dimanfaatkan untuk menopang hidup mereka. Salah satunya adalah sektor Usaha Kecil Menengah dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UKM dan UMKM).

Diluar dugaan, sektor UKM dan UMKM yang sebelumnya selalu dipandang sebelah mata ternyata menjadi satu-satunya sektor usaha yang paling mampu bertahan dari kolapsnya ekonomi 1998.

Menurut para pengamat ekonomi, ada beberapa hal yang memang membedakan UKM dan UMKM dengan sektor usaha lainnya sehingga dapat bertahan dari krisis ekonomi tersebut.

Pertama, UKM dan UMKM tidak memiliki utang luar negeri sehingga tidak terlalu terpukul oleh perubahan nilai dolar. Kedua, saat itu UKM dan UMKM masih dipandang sebelah mata dan unbankable sehingga tidak memiliki banyak utang ke perbankan. Ketiga, UKM dan UMKM umumnya menggunakan bahan baku lokal sehingga tidak dibebankan dengan mahalnya ongkos.

Setelah peristiwa krisis ekonomi, UKM dan UMKM berkembang sangat pesat. Selama 1997-2006, jumlah perusahaan berskala UKM dan UMKM mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha di Indonesia. Sumbangannya terhadap produk domestik bruto mencapai 54%-57%.

Selain itu, sumbangan UKM dan UMKM terhadap penyerapan tenaga kerja juga sangat besar. Karenanya, keberadaan dan pemberdayaan UKM dan UMKM menjadi sangat strategis.

UKM dan UMKM memiliki potensi yang besar dalam menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat, dan sekaligus menjadi tumpuan sumber pendapatan sebagian besar masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Be Sociable, Share!