Dari Teluk Wondama Melintasi Dua Zona Waktu Mengikuti Pelatihan BUMDes

Syncoreconsulting.com – Perjalanan pagi itu mengantarkan kami menuju kabupaten paling utara di kota Gudeg. Suasana di kanan-kiri berjejaran kompleks pertokoan, mall, hotel, perumahan mewah sampai pedagang kaki lima semua guyup rukun. Menggambarkan nuansa Jogja yang berhati nyaman.

Hari ke-4 program pelatihan pengelolaan Bumdes diprakarsai oleh Kemendes PDTT berkolaborasi dengan Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) di Yogyakarta. Dari rangkaian acara yang dilaksanakan selama enam hari tersebut dihadiri oleh berbagai perwakilan Pengelola Bumdes dari berbagai Kota di Indonesia.

Sesuai dengan komitmen untuk membantu menumbuhkan, mengembangkan, serta menguatkan BUMDes di Indonesia. Tim Bumdes.id kali ini turut membantu keberlangsungan acara tersebut dari prepare sampai pasca acara. Pelatihan hari itu masuk pada sesi kunjungan di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman.

Semangat untuk membangun perekonomian desa tumbuh dari ufuk timur Indonesia. Adalah Bapak Agus Kobosi, Kepala Desa Waprak Kabupaten Teluk Wondama. “Kami mendapat undangan dari Kecamatan Ruswar untuk mengikuti Pelatihan di Yogyakarta ini,” ungkap Agus Kobosi kepada tim Bumdes.id. Semangat yang patut kita apresiasi ketika mereka memiliki antusias membangun Desa meski nan jauh disana.

Sepuluh orang perwakilan dari Papua Barat hadir dalam acara yang tengah di diisi oleh presentasi Direktur BUMDes Amarta Bpk Agus Setyanta. “Kita harus memberi apresiasi kepada teman-teman dari Papua untuk membangun desa, potensi yang besar disana harus dikembangkan dan lebih baik dari yang disini,” tutur Bpk Agus Setyanta.

Keseriusan Kemendes PDTT dalam memeratakan perekonomian daerah tertinggal kita lihat langsung di pelatihan ini.  “Acara ini menjadi contoh bagi kita di Papua untuk berkembang, bagaimana Papua memang harus bisa mengikuti jejak temen-teman di Pulau Jawa,” ungkap Agus Kobosi.

Optimisme merekah di wajah pemuda Papua kala itu. “Saya bahkan sudah berpikir bagaimana hasil BUMDes yang ada di Papua kita kerjasamakan dengan BUMDes di daerah lain, misalnya saja hasil perikanan di wilayah kami ini sangat melimpah,” tambah Kobosi dalam wawancara eksklusif kepada Bumdes.id. Desa yang terpencil di Pulau dengan panjang 20km dan lebar 9,1 km  tersebut memang memiliki mayoritas nelayan sebagai mata pencaharian penduduknya.

Lebih lanjut, Agus Kobosi mengungkapkan kesannya kepada panitia pelaksana, “Pelatihan ini sangat berguna, kedepannya akan kami tindak lanjuti.  Seperti pembuatan Pengelolaan Keuangan yang lebih tertata, dan rancangan AD/ART akan kita contoh dari Bumdes Amarta.” Kecamatan Ruswar untuk saat ini memang masih dibilang tertinggal. Akses internet belum tersedia, karena menurut pemaparan Kobosi, baru mulai awal tahun ini dibangun sebuah tower telekomunikasi di pulaunya.

Agaknya bukan mitos belaka, ketika kebangkitan Indonesia tumbuh dari elemen terkecil sebuah negara. Karena jatidiri BUMDes adalah ejawantah profit dan benefit. Tebar kebermanfaatan tuai pendapatan. Ayo semangat, teruslah bergerak teman-teman dari Papua!

 

Salam Bumdes Sukses!
#TerusBergerak #BumdesID #BumdesSukses