Sebongkah Semangat BUMDes Dari Dompu Bumi Sejuta Sapi NTB

  • Syncoreconsulting.com – Sinar mentari menyala menyambut pagi para peserta pelatihan TOT BUMDes di Syncore. Satu per satu peserta mulai memenuhi Ruangan Tengah Syncore yang lebih dikenal dengan sebutan RTS. Kursi merah akan menjadi tempat duduk yang nyaman selama pelatihan berlangsung di hari kedua. Tidak tampak rasa lelah di raut wajah peserta pelatihan TOT BUMDes angkatan 7 itu. Semangat mengikuti pelatihan terus digenggam demi bekal yang dibawa ke desa mereka masing-masing pasca pelatihan ini.

Pelatihan ini diikuti peserta dengan berbagai background, dari perangkat desa, koaksi, maupun perwakilan dari Universitas. Tak terkecuali Taufik, Kepala Desa Dokorobo, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, NTB. Kesadaran beliau sebagai petinggi di desa bahwa pelatihan TOT BUMDes ini sangat penting dalam memetakan potensi dan mengelola BUMDes agar terus berkembang.

“Niat saya untuk mengikuti pelatihan ini 2 tahun lalu sejak menjadi pengurus BUMDes. Waktu kami sadar ada peluang dan sekarang menjadi kepala desa mau tidak mau harus mempelajari terlebih dahulu. Jika ketua BUMDes paham sementara kepala desanya tidak paham, percuma saja.”, tegas Taufik

Dokorobo, salah satu desa yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut memiliki 3 dusun yang berpenduduk lebih dari 400 keluarga. Warga desa Dokorobo mayoritas bermata pencaharian sebagai petani jagung dan peternakan sapi. Peran BUMDes dalam melayani masyarakat tergerak dari beberapa faktor tersebut. BUMDes Dokorobo berusaha memenuhi kebutuhan untuk kesejahteraan masing-masing keluarga di desa.

“BUMDes saya berdiri baru 2 tahun dengan anggaran 150 juta. Warga desa yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani jagung dan peternakan sapi. Oleh karena itu, BUMDes menyediakan alat untuk petani, obat-obatan. BUMDes menyediakan bibit jagung sesuai kebutuhan petani” jelas mantan wartawan ini.

Pada kamis 15/03/2018 ini, senyuman manis tak jarang tercipta dari peserta kala mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka. Selain itu, Yeni dari Tim Bumdes.id menyampaikan materi pengelolaan keuangan BUMDes. Laporan Keuangan Bumdes adalah Laporan yang meliputi gambaran keuangan serta pembuatan keputusan. Perbedaan dengan pengelolaan yang lain terletak pada pelaporan yang ditujukan ke pemerintah desa. Modal bumdes berasal dari pemdes, sehingga harus dipertanggungjawabkan.

“Permodalan minimal 60% pemerintah desa, 40% dari masyarakat desa karena komposisi biasanya seperti itu, setiap akhir tahun bumdes harus memberikan LPJ kepada 2 pihak tersebut. jika itu memang melibatkan investasi dari masyarakat, kalau dana seluruhnya dari pemerintah desa, berarti laporan ke Pemdes.”, Ungkap Yeni.

“Sebenarnya laporannya sama LPJ pada umumnya, formatnya sama rencana kerja, realisasi, RAB. Laporan keuangan sama seperti perusahaan lainnya ada neraca, laba rugi, laporan perubahan modal, catatan atas laporan keuangan. Kelebihan aplikasi kita transparansi, akuntabel, sistemnya online, realtime semua orang bisa mengakses laporannya kapanpun itu, bisa darimana aja, gak harus nunggu nyusun. Dan tinggal klik saja, posting, keluar laporannya, jadi semuanya otomatis”, Prisa dari Tim Bumdes.id menambahi.

Saat memasuki sesi praktek menggunakan aplikasi pengelolaan keuangan BUMDes, para peserta terlihat antusias. Mereka tidak segan memanggil Tim Bumdes.id untuk memandu jika belum paham bagian tertentu dari aplikasi tersebut. “mbak, kalau kayak gini selanjutnya gimana mbak?” salah satu tanya pecah di sela-sela tatapan mata tertuju ke layar laptop masing-masing.

“Selama mengikuti pelatihan ini, saya menyadari pengelolaan keuangan BUMDes kami belum maksimal. Sekarang saya sudah mengetahui kebutuhan pengelolaan keuangan yaitu software. Insyaallah untuk angkatan selanjutnya kami akan mengirimkan ketua BUMDes kami untuk belajar disini.”, Kesan Taufik

Dengan dana desa yang digelontorkan pemerintah cukup besar dapat dialokasikan pada pemberdayakan anak muda untuk membangun desa. Pemberian pencerahan dalam mengelola BUMDes melalui pemetaan potensi serta menjalankannya perlu dilakukan secara kontinyu. Apabila BUMDes dapat menyejahterakan masyarakat secara mandiri, maka ini sejalan dengan visi misi presiden yaitu membangun dari desa.