Manajemen Rumah Sakit Pasca Permenkes No. 3 Tahun 2020 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit

Pada tanggal 16 Januari 2020, Permenkes No. 3 Tahun 2020 telah resmi diundangkan. Dengan diberlakukannya Permenkes No. 3 Tahun 2020, maka Permenkes No. 30 tahun 2019 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit telah resmi  dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Terdapat banyak perubahan mendasar dari Permenkes No. 3 Tahun 2020 dibanding dengan peraturan sebelumnya. Mulai dari klasifikasi Rumah Sakit Kelas A, B, C, dan D, saat ini tidak lagi berdasarkan kemampuan pelayanan medik spesialis dan subspesialis, namun hanya berdasarkan jumlah tempat tidur. Selain itu, sistem rujukan berjenjang juga dihilangkan. Dengan demikian, pasien memiliki kebebasan untuk memilih Rumah Sakit.

Para Dokter Spesialis dan Subspesialis akhirnya bisa bernafas lega karena sudah tidak ada lagi larangan untuk berpraktik di Rumah Sakit Kelas C dan D. Selain menguntungkan dokter, masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Rumah Sakit dengan Kelas C atau D tidak perlu jauh-jauh untuk pergi ke Rumah Sakit Kelas A atau B jika membutuhkan layanan Dokter Spesialis maupun Subspesialis. Dengan demikian, masyarakat dapat terlayani dengan baik dan hak-hak pasien terpenuhi.

Lalu bagaimana rumah sakit menghadapi persaingan pasca Permenkes No. 3 Tahun 2020? Poin pertama, dari tahun 2012 hingga sekarang, perkembangan jumlah rumah sakit terus meningkat setiap tahunnya rata-rata sebesar 5,2%. Tentu saja dengan berbagai pilihan yang ada, pasien akan memilih rumah sakit dengan pelayanan yang baik. Oleh karena itu, rumah sakit, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta, mau tidak mau harus enterprising menggunakan semua yang ada untuk memaksimalkan kinerja layanan dan kinerja ekonomi secara keseluruhan agar bisa bersaing.

Poin kedua, pasca JKN, rumah sakit harus mereformasi dalam hal merubah cara pandang untuk diarahkan ke model enterprise. Pasca JKN rumah sakit harus memiliki costumer oriented dan stakeholder analysist yang kuat.

Perubahan peraturan sangat berdampak kepada bisnis yang dijalankan. Jadi pada dasarnya, bisnis tidak hanya melihat kondisi dalam saja namun kondisi luar juga perlu diperkirakan. Pendanaan yang kuat apabila tidak inovatif dan agresif, maka penerimaan akan turun. Namun, misal pun suatu bisnis telah agresif dan fleksibel, tentu tidak boleh keluar dari tata aturan yang berlaku.

Diperlukan satu manajemen rumah sakit yang memiliki kualitas baik, dimana Direktur memahami aturan dan menerapkan aturan itu dalam konteks rumah sakitnya. Dasar aturan tersebut dikembangkan menjadi sistem akuntansi, manajemen, klinikal, penjaminan mutu dan pelayanan sesuai dengan perkembangan zaman. Integrated sistem inilah yang dipicu dalam paradigma baru yang disebut enterprise. Enterprise yaitu bagaimana cara memadukan semua yang ada di RS baik itu SDM, aset, financial untuk mencapai tujuan yang diharapkan, yakni rumah sakit yang berkelanjutan.

Lalu apa lagi yang bisa dilakukan rumah sakit untuk tetap bisa bersaing pasca Permenkes No. 3 Tahun 2020?

Kami di Syncore Academy Rumah Sakit memiliki program Training Online yang dapat membantu Rumah Sakit dalam meningkatkan kapasitas SDM rumah sakit. Salah satu training yang dapat Rumah Sakit ikuti adalah Training Online Tata Kelola dan Manajemen Keuangan Rumah Sakit. Training ini memberikan gambaran bagaimana rumah sakit bisa mengelola rumah sakit Pasca Permenkes No. 3 Tahun 2020, sehingga rumah sakit tetap bisa bersaing.

Bagaimana Cara Daftarnya?

Silakan langsung klik http://learning.co.id/daftar/tatakelolamanajemenrs

Informasi lebih lanjut tentang Training Syncore Academy dapat menghubungi 081-996-900-800 (Yunda Prilia)